Kebangkitan Kalangan Pesantren yang Melahirkan Nahdlatul Ulama

Jelang Muktamar ke-33 NU

Kebangkitan Kalangan Pesantren yang Melahirkan Nahdlatul Ulama

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Senin, 27 Jul 2015 17:30 WIB
Kebangkitan Kalangan Pesantren yang Melahirkan Nahdlatul Ulama
Foto: Situs Resmi NU
Jakarta - Latar belakang berdirinya Nahdlatul Ulama tak bisa dilepaskan dari semangat para santri pesantren semasa perjuangan dahulu. Kaum pesantren pada awal abad 20 dalam kancah internasional turut andil dalam lahirnya Nahdlatul Ulama (NU).

Dikutip dari situs nu.or.id, Senin (27/7/2015) kalangan pesantren ikut dalam perlawanan terhadap kolonialisme dengan mendirikan organisasi pergerakan. Organisasi tersebut antara lain adalah Nahdlatut Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada tahun 1916, Nahdlatul Fikri (Kebangkitan Pikiran) pada 1918, serta Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Saudagar).

Pada tahun 1925 kalangan pesantren ini kemudian dikeluarkan dari Kongres Al Islam karena memiliki perbedaan pandangan. Kala itu memang Raja Ibnu Saud menetapkan asas tunggal yakni mahzab Wahabi di Mekkah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Asas ini menganggap tradisi pra-islam sebagai hal yang bid'ah. Salah satu bentuk tradisi yang dimaksud adalah ziarah kubur. Ketetapan Ibnu Saud ini kemudian ditanggapi positif oleh sebagian besar organisasi massa islam di Indonesia, kecuali kalangan pesantren.

Karena dikeluarkan dari Kongres Al Islam di Yogyakarta, kalangan pesantren kemudian tak bisa mengirimkan delegasi dalam Muktamar Alam Islami (Kongres Islam Internasional). Muktamar tersebut akan mengesahkan ketetapan Ibnu Saud yang kemudian akan diikuti oleh komunitas muslim di seluruh dunia.

Namun kalangan pesantren bertekad kuat untuk mempertahankan tradisi yang dianggap tak melenceng dari ajaran Islam ini. Maka itu kemudian mereka membentuk delegasi sendiri bernama Komite Hejaz yang diketuai KH Wahab Hasbullah.

Berkat lobi dari Komite Hejaz itu kemudian hingga kini umat Muslim di seluruh dunia bebas melaksanakan mahzab apa pun saat beribadah di Mekkah. Setelah itu kalangan pesantren merasa perlu untuk membuat komite Hejaz lebih permanen sehingga dapat mengawal perkembangan zaman.

Pada 31 Januari 1926 kemudian terbentuklah Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) yang dipimpin oleh KH Hasyim Asy'ari. Untuk menegaskan prisip dasar orgasnisai ini, maka KH. Hasyim Asy'ari merumuskan Kitab Qanun Asasi (prinsip dasar), kemudian juga merumuskan kitab I'tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah. (bag/van)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads