Mulai bulan Juni lalu, sejumlah telaga di kawasan Gunungkidul bagian selatan mulai mengering. Padahal telaga-telaga tersebut menjadi salah satu tumpuan bagi warga untuk mendapatkan air saat musim kemarau.
Ada sebanyak 282 telaga di Gunungkidul. Dari jumlah itu hanya 71 telaga yang masih bisa digunakan masyarakat untuk mencukupi kebutuhan air. Sedangkan sisanya tidak bisa digunakan lagi alias benar-benar kering. Tanah di tegalan dan sekitar telag juga sudah pecah-pecah. Itu menandakan sudah tidak ada air lagi di sekitarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Informasi yang dihimpun detikcom beberapa daerah yang paling banyak mengalami kekeringan di Kecamatan Rongkop, Tepus, Girsubo, Saptosari dan lain-lain terutama di wilayah selatan di deretan pegunungan Seribu. Rata-rata warga mengalami kekeringan sejak akhir bulan Juni dan awal Juli.
"Air telaga terus menurun bahkan ada telaga sudah benar-benar kering," ungkap Kepala Desa Balong, Kecamatan Girisubo, Suwardiyanto.
Karena telaga sudah kering, sebagian warga harus membeli air bersih dari tangki-tangki swasta. Warga tidak bisa hanya mengantungkan bantuan atau droping air bersih dari pemkab maupun swasta atau bantuan lembaga/organisasi sosial.
Sementara itu menurut Suprihatin (45) warga Balong, kondisi kekeringan seperti ini membuat warga harus menjual harta atau hewan ternak yang dimilikinya untuk membeli air bersih. Ada warga yang menjual anakan sapi, kambing hingga batang pohon kayu jati di kebun. Hewan ternak dan kayu jati adalah harta kekayaan warga yang setuiap saat bisa digunakan.
"Istilahnya pedhet mangan sapi (anak sapi makan sapi) atau sapi mangan pedhet. Ada juga yang menjual kayu jati kalau masih punya kayu jati yang siap tebang di ladang. Harta simpanan pasti keluar untuk beli air," katanya.
Menurut dia, kebutuhan air bersih setiap keluarga berbeda-beda. Ada yang membeli air bersih 5 ribu liter untuk 15 hari. Air sebanyak itu untuk mencukupi 4-8 keluarga baik untuk minum, mandi atau memasak. Namun ada yang hanya cukup 10 hari kalau jumlah anggota keluarganya banyak atau besar. Untuk satu tangki isi 5 ribu liter, warga harus membeli dengan harag Rp 120-180 ribu tergantung jarak atau lokasinya.
"Rata-rata sebulan 2 kali beli air. Kalau ada warga yang sedang punya hajat bisa lebih banyak," ungkapnya.
Menurut Kepala Dinas sosial tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Gunungkidul, Dwi Warno Widinugroho saat ini musim kemarau baru memasuki fase awal sehingga dropping air belun dibutuhkan.
Untuk mengatasi kekeringan 2015 ini Pemkab Gunungkidul mengalokasikan dana Rp 600 juta untuk keperluan dropping air.ย Pemkab telah meminta masing-masing kecamatan untuk melaporkan desa dan dusun yang sudah mengalami kekeringan.
"Saat ini kajian kita belum diperlukan upaya droping air. Jangan sampai bantuan salah sasaran dan hanya dinikmati segelintir orang," katanya. (bgs/try)











































