Dari ratusan dusun tersebut paling banyak yang mengalami krisis air bersih berada di Kabupaten Gunung Kidul. Urutan kedua adalah Kabupaten Kulonprogo. Urutan ketiga dan keempat kabupaten Sleman dan Bantul. Kelima adalah Kota Yogyakarta.
Untuk mengatasi masalah tersebut Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY terus melakukan pemantauan dan assesment di wilayah-wilayah yang mengalami krisis air bersih.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Pristiawan, Posko Siaga Kekeringan berada di kantor BPBD DIY Jalan Kenari No14 A Yogyakarta dan membuka hotline di nomor telephone 085 1036 30700.
Posko ini bukan hanya sekedar menerima tambahan informasi dari masyarakat, tapi juga bisa menjadi rujukan berbagai lembaga terkait dalam penanganan krisis air bersih selama musim kemarau 2015.
"Bila ada lembaga yang ingin memberikan bantuan air bersih, kami bisa membantu memberikan informasi dan mengarahkan daerah-daerah yang benar-benar mengalami krisis air bersih dan belum pernah ada droping bantuan," katanya.
Dia menambahkan untuk wilayah Gunungkidul sebanyak tiga kecamatan ini sudah mengalami krisis air sejak pekan pertama bulan Juni lalu. Sejumlah telaga sudah mengering, bahkan sudah habis dan kering kerontang. Kalaupun ada telaga yang masih terisi, airnya sudah tidak layak untuk dikonsumsi.
Sementara itu berdasarkan data di BPBD DIY ada sebanyak 384 dusun di DIY yang terancam krisis air bersih. Dari jumlah ini, Kabupaten Gunungkidul merupakan daerah dengan ancaman kekeringan terbanyak. ada sekitar 121 dusun yang tersebar di 43 desa. Di Kabupaten Kulonprogo ada 139 dusun di 25 desa dari 4 kecamatan yang mengalami krisis air bersih. Di Kulonprogo dusun-dusun yang mengalami krisis air bersih sebagian besar di daerah Pegunungan Menoreh.
"Untuk Sleman, dusun-dusun yang mengalami krisis air bersih ada di Kecamatan Prambanan dan Cangkringan. Sedangkan Bantul diantaranya ada di Kecamatan Dlingo dan Imogiri," Kepala BPBD DIY, Gatot Saptadi.
Gatot juga mengingatkan agar semua warga untuk berhemat air selama musim kemarau ini. Sebab ancaman musim kemarau panjang berdasarkan informasi dari BMKG yang akan berlangsung hingga bulan November tahun ini.
"Bila benar ini bakal kemarau panjang. Semua harus berhemat air tidak hanya yang biasa mengalami kekeringan setiap tahun tapi semua warga di DIY," pungkas Gatot. (bgs/try)










































