Aktivis Seniman Semsar Siahaan Meninggal
Rabu, 23 Feb 2005 11:20 WIB
Jakarta - Aktivis dan seniman Semsar Siahaan, Rabu dinihari (23/2/2005) sekitar pukul 00.45 Wita meninggal dunia di RS Tabanan Bali. Semsar yang banyak dikenal dengan lukisan, poster dan ilustrasi mengkritisi penguasa ini meninggal karena serangan jantung ringan."Dua hari lalu Bang Semsar agak lemas, lalu dibawa ke rumah sakit Tabanan. Tampaknya kena serangan jantung ringan. Setelah dirawat sempat kembali segar dan tampak normal. Tiba-tiba tadi malam saat tidur mengerang kesakitan lagi, tak lama kemudian meninggal," tutur Rinjani, salah satu kawan Semsar Siahaan saat dihubungi detikcom melalui sambungan telepon, Rabu (23/2/2005).Semsar belakangan tinggal di daerah Jatiluwi, Tabanan Bali. Saat ini, jenazah masih berada di RS Tabanan, dan menurut rencana akan diberangkatkan ke Jakarta. "Diperkirakan pukul 15.00 Wib sampai Jakarta dan akan disemayamkan di Taman Ismail Marzuki," tutur Rinjani.Semsar Siahaan adalah salah satu nama seniman yang selalu berontak atas tindakan represif penguasa di masa itu. Ia mengekspresikan sikapnya itu lewat karya-karya poster, ilustrasi, dan lukisan-lukisannya. Saat Majalah Tempo, Tabloid Detik dan Editor dibreidel, Semsar ikut dalam aksi menentang pembredelan. Saat bentrok terjadi, ia menjadi korban kekerasan aparat. Ia mengalami patah tulang dan beberapa hari dirawat di rumah sakit.Saat mendapat tekanan dari pemerintah orde baru, Semsar sempat ke Kanada, dan membuat karya-karya di sana. Sebagai seniman oposisi, tentu saja banyak tantangan yang dihadapi selama di Indonesia.Karya mural di tembok Teater Arena pada masa itu pun melukiskan kejengahannya pada militer yang berkuasa. Ia menggambar seorang aparat—tampak belakang—lengkap dengan sepatu lars dan seragam loreng. Karya tersebut dibuat sebagai protes atas kekerasan dan pelanggaran HAM di Timor-Timur, terutama peristiwa Santa Cruez.Karya-karya lainnya cukup beragam, dan simbolik. Lukisannya yang berjudul ”The Man Who Knows All” (2002). Dalam lukisan itu, George Bush dilukiskannya mengenakan pakaian ”terlampau besar untuk dirinya”, bersandar pada pemasang perangkap lalat ”pertanda kematian”, dengan senjata yang dia pegang, dan sementara sepatu ”kesayangannya” menginjak surat perjanjian antinuklir.Lukisan bertema sosial dan kemanusiaan, tapi juga diperlihatkannya pada karya-karyanya yang lebih mengarah pada internal dirinya yang berdialog dengan alam, seperti dalam lukisan ”The Springs Full Moon 1” (2004) dan ”The Springs Full Moon 2” (2004).Belakangan, karya-karyanya memang menggunakan garis-garis, bahkan objeknya dibuat nyaris ”abstrak berfigur”. Lukisan yang tak verbal dalam perwujudan objeknya namun tetap memperlihatkan tema sosial itu ada pada karya antara lain ”Homage to Andy Warhol” (2001) dan ”Double Portrait (Portrait of Nicole M.B)”.Karya sketsa tinta di atas kertasnya dengan judul antara lain ”Third Millenium Totem 1”, ”Third Millenium Totem 2 (Mother and Child)” dan ”Third Millenium Totem 3”, atau ”The Poet who Dissapeared” (2000), menunjukkan lukisan yang detail.
(jon/)











































