Ratusan Umat Hindu Rayakan Galungan dan Kuningan di Belgia

Laporan dari Belgia

Ratusan Umat Hindu Rayakan Galungan dan Kuningan di Belgia

Eddi Santosa - detikNews
Senin, 27 Jul 2015 07:46 WIB
Ratusan Umat Hindu Rayakan Galungan dan Kuningan di Belgia
Foto: Didier Daloz
Brussel - Ratusan umat Hindu Bali merayakan Hari Raya Galungan dan Kuningan, hari kemenangan dharma (kebaikan) melawan adharma (keburukan) di Pura Agung Santi Bhuwana, Taman Pairi Daiza, Belgia.

"Perayaan Galungan dan Kuningan ini diselenggarakan oleh Banjar Shanti Dharma Belgia-Luxemburg," ujar Made Agus Wardana kepada detikcom, Senin (27/7/2015).

Perayaan Galungan dan Kuningan berlangsung khidmat dan lancar walaupun hujan angin membasahi area pura. Umat Hindu tetap saja duduk bersila (laki-laki) dan bersimpuh (perempuan) tidak beranjak dari tempatnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Suasana pun menjadi semakin magis dan sakral, ketika asap dupa dan mantra mengalun diiringi rintik-rintik hujan gerimis menyambut hari raya yang sangat penting bagi umat Hindu Bali ini.

Perayaan yang berlangsung pada Sabtu (25 Juli 2015) itu terbagi dalam tiga bagian. Pertama, ritual persembahyangan Dharma Wacana (penyampaian makna Galungan dan Kuningan) oleh Dewa Made Sastrawan (Dubes RI untuk Swedia) dan I Gusti Ngurah Ketut Sumantera (Dubes RI di Belgia 1997-2000).

Kedua, diadakan acara megibung yaitu saling berbagi makanan khas Bali dengan tujuan untuk melepaskan kerinduan pada makanan Bali yang sangat kaya rempah-rempah eksotis.

Ketiga, persembahan Tari Pendet oleh anak-anak, Tari Panyembrama oleh Sanggar Dwi Bhumi pimpinan Aafke de Jong, Parade Tari Joged Bumbung serta dimeriahkan dengan kuis berhadiah aneka kerajinan Bali untuk para pengunjung Taman Pairi Daiza

"Kegiatan perayaan ini bertujuan sangat mulia, bahwa sebagai masyarakat Bali yang beragama Hindu di Eropa, adat, budaya dan agama mesti tetap dilestarikan dan dijaga keberadaannya," ujar Made.

Menurut Made, tradisi tidak boleh diabaikan begitu saja, namun harus tetap dipertahankan melalui 3 pedoman dasar penyesuaian, berdasarkan agama Hindu yaitu desa (tempat), kala (waktu) dan patra (kondisi).

Dalam perayaan kali ini, anak-anak yang tergabung dengan kelompok kesenian gamelan dan tarian diberi kesempatan menunjukan keterampilannya menarikan tarian Pendet sebagai pembuka.



Kesempatan ini merupakan ajang pembinaan dalam upaya menanamkan nilai budaya Bali (toleransi, solidaritas, kebersamaan, kreatifitas) sejak mereka usia dini.

Nilai budaya ini akan menjadi jaminan seumur hidup dan terpatri selamanya di hati anak-anak tersebut.

"Bekal nilai budaya yang diperoleh sejak kecil tersebut dapat dikembangkan lagi, diadaptasikan pada zaman yang terus mengalami perubahan demi perubahan," pungkas Made.

(es/dhn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads