Polisi bernama Muhammet Fatih Sivri itu tertembak di bagian dada. Arah tembakan berasal dari dalam gedung ketika dia mencoba melakukan penangkapan selama bentrokan itu terjadi, demikian pernyataan resmi dari Kantor Berita Anatolia seperti dilansir AFP, Senin (27/7/2015).
Polisi itu sempat dilarikan ke rumah sakit. Namun dia menghembuskan nafas terakhirnya di perjalanan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Massa melempar batu dan bom molotov ke arah polisi. Kemudian aksi itu dibalas polisi dengan water cannon, peluru plastik dan gas air mata.
Kemudian para massa itu membangun barikade di tengah jalan. Mereka menggunakan sapu tangan yang menutupi hidung dan mulut mereka dari gas air mata sementara yang lainnya menggunakan masker.
Distrik yang berada di sebelah utara dari pusat kota Istanbul itu tengah bergelojak sejak kematian Gunay Ozarslan pada Jumat lalu ketika polisi melakukan penggerebekan melawan para militan.
Sebelumnya, kantor berita Dogan melaporkan, polisi menggerebek alamat-alamat di sejumlah distrik Istanbul dan wilayah lainnya untuk mencari anggota ISIS, Partai Pekerja Kurdi (PKK) dan kelompok militan lainnya. Bahkan di Istanbul saja, 140 alamat digerebek di 26 distrik dalam operasi penangkapan yang melibatkan sekitar 5 ribu polisi tersebut.
Operasi penangkapan ini dilakukan setelah serangan bom bunuh diri di Suruc, sebuah kota Turki di perbatasan Suriah pada Senin, 20 Juli lalu. Sebanyak 32 orang tewas dalam serangan yang diklaim ISIS tersebut.
Kemudian dua polisi tewas ditembak di wilayah tenggara Turki, dekat perbatasan Suriah pada Rabu, 29 Juli lalu. Sayap militer PKK mengklaim penembakan itu sebagai pembalasan atas pengeboman di Suruc.
Kemudian pada Kamis, 23 Juli kemarin, seorang polisi tewas dalam serangan di kota Diyarbakir yang penduduknya mayoritas Kurdi. (dha/dha)











































