PKB: Lawan Risma di Pilkada Surabaya Bukan Calon Boneka

PKB: Lawan Risma di Pilkada Surabaya Bukan Calon Boneka

Hardani Triyoga - detikNews
Minggu, 26 Jul 2015 18:04 WIB
PKB: Lawan Risma di Pilkada Surabaya Bukan Calon Boneka
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - PKB memastikan bahwa Koalisi Majapahit akan mengajukan calon wali kota untuk menandingi Tri Rismaharini. Calon itu disebut bukan sekadar diajukan agar fenomena calon tunggal dalam Pilkada Surabaya.

"Oh nggak. Kita bukan boneka. Kita serius untuk mengusung, karena ini kan harga diri partai juga. Nggak mungkin kita main-main soal Pilkada ini. Concern kita adalah kita serius di Surabaya, nggak mau dianggap sebagai pasangan boneka. Target kita ya menang, bukan main-main melawan ketangguhan Risma, kan masih ada waktu ini untuk konsolidasi," kata Ketua Desk Pilkada PKB, Bambang Susanto di Ciganjur, Jakarta Selatan, Minggu (26/7/2015).

Koalisi Majapahit terdiri dari Partai Gerindra, Partai Golkar, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Demokrat, dan Partai Amanat Nasional (PAN). Bambang menegaskan bahwa kemunculan koalisi ini bukan strategi main-main untuk menghadapi Pilkada.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bambang mengakui keberhasilan Risma dalam periode pertamanya memimpin Kota Surabaya. Dia kemudian menjelaskan latar belakang munculnya Koalisi Majapahit.

"Ya itu memang melihat dinamika dan konstelasi di lapangan sehingga harus kita menentukan sikap. Memang Bu Risma ini ya karena mungkin sudah terlalu pede dengan kepopuleran," ucapnya.

Dia pun menilai koalisi perlu terbentuk karena keyakinan PDIP sebagai pengusung Risma yang bisa menang dengan bermodal kursi banyak. Hal ini menimbulkan anggapan tak perlu koalisi dengan parpol lain.

"PDIP juga yakin akan menang karena jumlah kursi banyak. Mungkin dia beranggapan tidak butuh kerja sama dengan partai lain. Dari situ kan kemudian muncul dinamika. Partai-partai lain akhirnya membangun komunikasi di luar kekuatan Risma dan PDIP itu," tutur Bambang.

Lanjutnya, koalisi ini terbentuk karena penawaran kerjasama yang diajukan ke PDIP tak direspon secara positif. Padahal, sinyal ini sudah ditawarkan sejak jauh-jauh hari.

"Sinyal itu kan sudah kita sampaikan jauh sebelumnya. Sinyal sudah cukup. Kita yakin Bu Risma populernya ketokohannya bagus. PDIP sebagai pengusung juga punya porsi yang relatif banyak. Partai-partai lain kan memberi sinyal untuk merapat. Bagaimana untuk ikut mendukung," ujarnya.

"Tapi dalam perjalanannya, sinyal itu nggak direspon. Maka wajar akhirnya karena nggak direspon, kita lintas ini membangun komunikasi, saya kira wajar," lanjut Bambang. (hty/imk)


Berita Terkait