Polda Sumatera Utara Diminta Tertibkan Pungli di Jalan Lintas Asahan-Tobasa

Polda Sumatera Utara Diminta Tertibkan Pungli di Jalan Lintas Asahan-Tobasa

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
Minggu, 26 Jul 2015 00:21 WIB
Asahan - Masyarakat meminta Polda Sumatera Utara (Poldasu) menertibkan pungutan liar yang dilakukan warga di jembatan yang lagi dibangun. Setiap mobil melintas dipaksa membayar Rp 20 ribu.

Pungutan liar dibarengi ancaman ini tepatnya di Kecamatan Meranti, Kabupaten Tobasa. Jalan lintas status Pemprov Sumut ini menghubungkan Kabupaten Asahan ke Tobasa.

Di ruas badan jalan tersebut, saat ini ada jembatan lama yang lagi dibongkar. Sedangkan disebelah jembatan lama dibangun jembatan sementara. Di jembatan sementara inilah, belasan anak muda menjaga 24 jam setiap kendaraan yang lewat. Untuk sepeda motor mereka paksa membayar Rp5 ribu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pungli ini sudah berjalan sejak puasa sampai lebaran sekarang. Kita sudah pernah sampaikan ke jajaran Polres Porsea di Tobasa agar mereka ditertibkan. Tapi selalu saja dijawab jangan ada yang mengasi kalau dimintai duit," kata Robert Situmorang warga Tobasa kepada detikcom, Sabtu (25/7/2015).

Masyarakat yang melintas sebenarnya menolak untuk dikutip duit. Persoalannya, pemuda setempat yang melakukan pungli jumlahnya lumayan ramai.

"Kita kalau lewat dipaksa membayar, kalau tidak dikasih mereka ribut. Tidak mungkin kita melawan, sedangkan jumlah mereka banyak," keluh Robert.

Masyarakat mengharapkan, kiranya Polda Sumatera Utara dapat meninjau langsung ke lokasi tempat pungli yang meresahkan warga.

"Sudah lama masyarakat mengeluhkan kondisi ini ke Polres Tobasa, tapi kurang mendapat respon. Sebaiknya Polda Sumut turun tangan untuk menghentikan pungli di jalan tersebut," Robert.

Keluhan yang sama juga diungkapkan warga Kabupaten Asahan. Setiap warga yang melintas ke wilayah Tobasa menjadi sasaran empuk para pemuda setempat.

"Mereka itu menjaga di lokasi selama 24 jam. Malam hari mereka buat tenda dengan penerangan lampu petromak. Semua kendaraan yang melintas dipaksa membayar," keluh Kurnia (43) warga Kecamatan Bandar Pulau, Kab Asahan.

Harga yang dipatokan para pemuda tempatan itu, akan berbeda bila kendaraan dengan nomor polisi di luar Sumut.

"Lebaran saya melintas dari Asahan untuk menuju Danau Toba dengan mobil. Karena nopol saya dari Riau, mereka minta Rp 30 ribu. Saya sempat marah, tapi mereka bilang kalau tidak mau bayar jangan lewat. Akhirnya dengan terpaksa kita bayar," kata Harudin warga Pekanbaru. (cha/ega)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads