Perlu Ada Gerakan Bersama untuk Mengantisipasi Kurangnya Cadangan Air

Bertahan di Tengah Kekeringan

Perlu Ada Gerakan Bersama untuk Mengantisipasi Kurangnya Cadangan Air

Elza Astari Retaduari - detikNews
Sabtu, 25 Jul 2015 12:28 WIB
Perlu Ada Gerakan Bersama untuk Mengantisipasi Kurangnya Cadangan Air
Ilustrasi (Foto: Edward/Detikcom)
Jakarta - Salah satu penyebab kekeringan yang melanda sejumlah daerah di Indonesia disebabkan karena kurangnya cadangan air. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan adanya gerakan bersama sadar lingkungan untuk menambah stok air tanah.

Peneliti Hidrologi dan Lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Sutrisno M.Sc mengatakan, salah satu upaya untuk menambah cadangan air adalah dengan menyisakan tanah di rumah untuk resapan air hujan. Selain itu, pembuatan sumur resapan juga bisa menjadi alternatif lainnya.

Terlepas dari itu, peran pemerintah sendiri sangat diharapkan untuk mengajak serta masyarakat sadar akan kondisi yang tengah terjadi ini. Seperti pembatasan bangunan kedap air yang dapat menghambat resapan air.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Misalkan di Puncak, daerah resapan harus berapa persen. Bangunan harus dibatasi dari jumlah lahan yang ada. Air tanah itu kan juga ada pergerakan, kayak di Puncak kalau di sana kondisinya bagus, air akan mengalir ke sini (Jakarta). Tapi kalau di sana sudah ketutup dengan yang kedap air, atau terhambat karena tertutup beton di sini ya akan sulit juga mengalir airnya," jelas Sutrisno saat berbincang dengan detikcom, Jumat (24/7/2015).

Area resapan air menjadi sangat penting diperhatikan untuk menghindari kekeringan. Tanaman-tanaman pun menjadi wajib hukumnya jika tidak ingin ke depan air bersih menjadi barang yang langka. Agar masyarakat menjadi peduli akan permasalahan ini, pemerintah dinilai perlu turun tangan langsung terlepas dari program pemerintah yang sudah ada.

"Perlu banget. Jadi pemerintah mengambil keputusan yang bagus. Lebih pada kebijakan. Taoi kebijakan yang berdasarkan hasil riset ya. Pasti kan ada kajiannya. Sebab kalau upaya dilakukan hanya oleh satu atau 2 rumah, dampaknya nggak berasa. Tapi kalau kebijakan pemerintah, dilakukan orang se-Indonesia dampaknya akan besar, apabila global mendunia," tutur pakar lulusan magister Universitas Hiroshima Jepang itu.

Di beberapa lokasi telah ditemui adanya kondisi kekeringan, bahkan hingga di sekitaran Jakarta. Lalu daerah mana saja yang paling riskan atau rawan terjadinya kekeringan?

"Soal kekeringan itu tergantung fungsi dan waktu, jadi nggak menentu. Saat ini pada umumnya bulan Juli di Jawa itu kering, tapi di daerah Sumatera bagian utara hujannya masih banyak. Tapi bisa gantian lagi," terang Sutrisno.

"Kondisinya mengikuti posisi matahari. Kalau Juli di utara Khatulistiwa, penguapan lebih banyak sehingga radiasi matahari juga banyak, dan akhirnya timbul hujan. Kalau bulan Januari-Februari posisi matahari di selatan Khatulistiwa, sehingga pada bulan-bulan itu di Jawa banyak hujannya," tutupnya. (elz/gah)


Berita Terkait