Perubahan cuaca akhir-akhir ini diprediksi tak akan permanen, melainkan hanya perubahan periodik saja. Kekeringan ini adalah dampak siklus El Nino berjangka lima hingga tujuh tahunan.
"Ini periode kekeringan El Nino antara lima hingga tujuh tahun sekali. Ini periodik saja, setelah ini diprediksi akan normal lagi," kata Kepala Stasiun Klimatologi Dramaga Bogor dari Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dedi Sucahyono kepada detikcom, Sabtu (25/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada 2014, musim kemarauย datang pada bulan September dan musim hujan dimulai pada awal Oktober. Pada 2015 ini, Bogor sudah mulai memasuki musim kemarau sejak Juni, dan langsung memasuki masa puncak kemarau.
"Sekarang begitu musim kemarau, hujan hilang sama sekali. Puncak musim kemarau datang lebih awal dibanding sebelumnya. Bahkan pada Mei, hujan sudah mulai berkurang. Perbandingan dengan tahun lalu cukup jauh," kata Deni.
Pada Bulan Juli, suhu di Bogor bisa mencapai 35 derajat celcius, padahal sebelumnya hanya 32 derajat celcius. Ini diakibatkan kelembaban Bogor yang rendah sehingga juga terasa kering.
Hujan juga tak turun karena keringnya udara di Bogor. Bilapun hendak terbentuk awan, awan-awan itu tak menjadi hujan lantaran terhempas aktivitas El Nino Samudra Pasifik.
"Angin di daerah Monsoon tenggara dari arah Australia sangat kuat, sehingga awan-awan itu selalu gagal menjadi hujan. Penyebabnya adalah aktifnya El Nino Samudra Pasifik," kata Deni.
(dnu/jor)











































