Hal itu terlihat ketika Jonan melakukan kunjungan kerja di Kota Semarang hari Rabu (22/7) dan Kamis (23/7) kemarin. Jonan mengawali tinjauan di Kota Semarang dengan mendatangi Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang.
GM Angkasa Pura I dan beberapa pejabat Kemenhub mendampingi langkah Jonan dan menunjukkan rute. Namun ternyata Jonan lebih memilih jalur blusukannya sendiri. Ia melangkah tak terduga bahkan tiba-tiba belok ke lounge. Dari lounge, mantan Dirut PT KAI itu juga mengintip dari celah stiker pintu kaca yang terkunci.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah berkeliling cukup lama melihat padatnya Bandara Ahmad Yani, Jonan pun memberikan sejumlah saran termasuk penataan kios-kios. Usai dari bandara, Jonan bergegas ke Terminal Terboyo Semarang.
Di terminal, Jonan diperlihatkan bus Jawa Indah yang siap dicek. Lagi-lagi tidak terduga, Jonan justru memilih bus Jaya Utama Semarang-Surabaya yang diparkir tidak jauh dari bus Jawa Indah.
![]() |
"Speedometer mati, masak bus angkut penumpang komersial speedometer mati tetap jalan. Toleransinya harus tidak ada untuk keselamatan. Pengemudi pakai apa ngukurnya kecepatan? Pakai perasaan?" kata Jonan.
Pantauan kemudian dilanjutkan di Stasiun Tawang Semarang. Awalnya rencana pantauan dilakukan di Stasiun Poncol, namun mendadak terjadi perubahan jadwal dan dipindah ke stasiun Tawang. Di stasiun Tawang, Jonan mengecek kondisi stasiun dan kereta api mulai gerbong hingga lokomotif.
Kunjungan di stasiun tersebut dilakukan cukup lama karena dilanjutkan rapat internal dan selesai pukul 22.00. Esok harinya, Kamis (23/7) Jonan dijadwalkan meninjau Pelabuhan Tanjung Emas Semarang pukul 07.30. Tapi terjadi perubahan jadwal lagi.
Jonan ternyata memantau lagi Bandara Ahmad Yani dan memastikan apakah masih ada penumpukan penumpang di ruang tunggu. Pada kunjungan keduanya itu ia juga sempat menyindir atap yang terlihat tambal sulam.
"Itu lihat, masak bandara kayak gitu. Itu pasti tambal sulam, iya kan? Walau saya bukan dari arsitektur," tegas Jonan sambil menunjuk atap yang terlihat dari pintu VIP.
Di rencana awal, Jonan memantau pelabuhan kemudian berangkat ke Surabaya menggunakan KA Maharani pukul 11.00. Namun rencana itu diubah dan pukul 12.10 WIB Jonan baru tiba di Pelabuhan Tanjung Emas dan mengecek KM Dobonsolo yang mengangkut pemudik motor.
Di KM Dobonsolo, Jonan bertemu Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan berbincang cukup lama. Setelah itu Jonan turun dari KM Dobonsolo dan bergegas menuju mobil, padahal saat itu di panggung hiburan pembawa acara sudah mempersilakan Jonan memberi sambutan.
Jonan kala itu menuju Stasiun Tawang untuk berangkat ke Surabaya menggunakan Argo Anggrek. Setelah Jonan naik KA tersebut, ia melihat-lihat fasilitas termasuk toilet. Selain itu Jonan juga memakai prosedur umum seperti penumpang lainnya yaitu membeli tiket dan melewati pemeriksaan.
Dalam perjalanan tersebut sempat terjadi insiden pelemparan batu yang membuat kaca di dekat tempat duduk Jonan retak. Ia pun langsung memberi tahu kalau kaca tersebut tidak akan pecah berkeping-keping karena terbuat dari bahan khusus.
Selain blusukan, langkah Jonan juga sering terhenti untuk melayani warga yang ingin bersalaman dan berfoto selfie. Bahkan Jonan juga sering mengatur gaya agar selfie terlihat bagus.
![]() |
Kebiasaan Jonan yang tidak terduga itu memang sudah terlihat sejak ia menjabat sebagai Dirut KAI. Pria kelahiran Singapura 53 tahun lalu itu sangat detail dalam pekerjaannya, hasilnya namun bisa dilihat dengan perubahan di PT KAI mulai dari sistem, pelayanan, hingga kebersihan toilet di gerbong.
"Dulu, enam tahun lalu waktu saya di KAI banyak yang bilang kok saya ngurusi yang kecil-kecil (seperti toilet). Tapi kenyataannya bisa berubah kan," kata Jonan saat berbincang santai dengan detikcom. (alg/try)













































