Menurut Mendikbud Anies Baswedan alasan kuat mengimplestasikan penumbuhan budi pekerti adalah upaya untuk menjadikan sekolah sebagai taman untuk menumbuhkan karakter-karakter positif bagi para peserta didik. Penumbuhan budi pekerti dilakukan dengan tiga sektor yaitu intrakurikuler, ekstrakurikuler dan non kurikuler.
"Penentuan budi pekerti ini merupakan penanaman disiplin di mana melalui proses belajar lalu dilakukan secara biasakan, konsisten dan jadinya kebiasaan. Kegiatannya dibagi kegiatan wajib dan kegiatan pembiasan baik seperti melaksanakan upacara bendera, senam setiap Jumat, menyanyikan lagu Indonesia raya sebelum kegiatan belajar dimulai dan menutup kegiatan belajar dengan menyanyikan lagu daerah," terang Anies di Kemendikbud, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Jumat (24/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anies mengatakan, metode pelaksanaan PBP untuk semua jenjang pendidikan disesuaikan dengan tahapan usia perkembangan peserta didik dan cara pelaksanaannya bersifat kontekstual yang disesuaikan dengan nilai-nilai muatan lokal daerah. Dan PBP ini diharapkan dapat tumbuh mencakup antara lain internalisasi nilai moral dan spiritual dalam kehidupan.
"Selain itu untuk menimbulkan rasa kebangsaan dan cinta tanah air, interaksi positif antara peserta didik dengan guru dan orangtua, interaksi positif antar siswa, pengembangan potensi untuk siswa, pemeliharaan lingkungan sekolah yang mendukung iklim pembelajaran dan pelibatan orangtua dan masyarakat," terang Anies.
Bagi Anies, kegiatan non kurikuler yang sudah tidak dilakukan oleh sekolah membuat anak-anak tidak memiliki karakter, seperti yang diharapkan oleh masyarakat. Sebab, menurut psikologi perkembangan perserta didik, cara paling baik menanamkan karakter adalah dengan melakukan kegiatan tersebut.
"Untuk itu kita melakukan pendekatan dengan bottom up. Dan akan dilaksanakan pada Senin (27/7/2015) ini dan surat edaran soal pelajaran tersebut disebar melalui dinas," tutup Anies. (spt/slh)











































