Kekeringan memang terjadi di mana-mana. Selain di Sawangan, air juga susah ditemukan di Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, dan tentu saja di Jakarta. Bila tak ada sambungan air PAM, maka warga hanya bisa menggantungkan harapan pada hujan.
Kembali lagi ke Sawangan, sang pemilik rumah bernama Sapril mempunyai sumur di belakang rumahnya. Namun karena kering, dia terpaksa harus kembali membuat sumur lagi. Lokasi yang dipilih adalah di depan rumah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sapril yang sehari-hari menjadi penjual nasi Padang harus pasrah menerima kenyataan bahwa hasil dari 6 jam pengeborannya bersama ketiga pekerjanya malah mengeluarkan gas dan lumpur. Akibatnya, ia dan kedua pekerjanya harus dilarikan ke rumah sakit akibat pingsan karena menghirup gas.
Menurut Diman, keponakan Sapril yang tinggal 100 meter dari lokasi semburan lumpur dan gas, sudah 2 bulan terakhir di daerahnya tersebut hujan tidak kunjung turun. Dan hal itu baru tahun ini terjadi.
"Di sini rata-rata kalau musim hujan sumurnya bagus. Air jernih, bersih. Kalau nggak ada hujan sumurnya kering. Ya udah 2 bulanlah nggak hujan. Jadi kering di sini," ujar Diman di Jl Raya Swadaya no.8, Bedahan, Sawangan, Depok, Jawa Barat, Kamis (23/7/2015).
"Baru tahun ini aja nih kering dan panas gini cuacanya. Dulu mah nggak gini," lanjutnya.
![]() |
Di Gunung Kidul, DI Yogyakarta, ratusan desa terancam kekeringan. Berdasarkan penelitian Badan Penanggulangan Bencana Daerah, ada 121 dusun yang tersebar di 43 desa di 14 kecamatan yang dipastikan akan mengalami krisis air bersih selama musim kemarau. Di Gunungkidul tiga kecamatan yakni Saptosari, Purwosari dan Tanjungsari sudah mengalami krisis air bersih sejak awal bulan Juni lalu. (Baca juga: sejumlah wilayah di Gunung Kidul mulai kekeringan)
Di Pekanbaru, Riau, kekeringan juga terjadi. Warga bahkan sempat menggelar salat minta hujan di halaman Pemprov Riau pada Senin (13/7/2015) pagi. Salat ini selain dihadiri para PNS Pemprov Riau, juga dihadiri warga sekitar. (Baca Juga: Kekeringan, Warga Riau Salat Minta Hujan)
![]() |
"Lewat salat Istisqa ini, kita sama-sama bermohon pada Allah SWT agar segera turun hujan. Karena saat ini kita dilanda kekeringan yang berimbas kebakaran hutan," kata Plt Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman.
Ada apa sebenarnya dengan kekeringan di Indonesia? Badan Klimatologi Meteorologi dan Geofisika (BKMG) mengungkapkan saat ini terjadi El Nino di Indonesia. Namun, hasil monitoring hingga Bulan Juni 2015, kondisi El Nino berada pada status moderat atau sedang.
Kondisi ini diperkirakan akan berlangsung sampai dengan November 2015 dan berpeluang untuk menguat. Beberapa daerah yang diprediksi akan terkena dampak El Nino meliputi Sumatera Selatan, Lampung, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.
Kepala Lapan Thomas Djamaluddin mengatakan, fenomena El Nino tidak terlepas dari suhu permukaan laut pasifik. Kondisi secara umum berada antara moderat dan kuat.
"Tidak terlalu menakutkan walaupun harus tetap diwaspadai," kata Thomas.
Bukan hanya di Indonesia, di berbagai belahan dunia pun kekeringan melanda. Salah satu yang kerap menjadi perhatian ada di California, Amerika Serikat. Di sana, air sudah jadi barang langka. Bahkan selama 4 bulan terakhir, warga hidup tanpa air.
Bagaimana dengan kondisi air di lingkungan Anda? Apakah kekeringan? Bagaimana Anda menyiasatinya? Silakan berbagi pengalaman ke redaksi@detik.com.
Halaman 2 dari 1













































