Siap Mengadu Nasib, 3 Ibu Ini Datangi Ibukota untuk Berjualan Pecel

Siap Mengadu Nasib, 3 Ibu Ini Datangi Ibukota untuk Berjualan Pecel

Elza Astari Retaduari - detikNews
Senin, 20 Jul 2015 12:05 WIB
Foto: Elza Astari
Jakarta - Pesona Jakarta memang tak pernah ada habisnya. Bagi warga daerah, Jakarta selalu punya kemilau tersendiri. Pendatang pun banyak ditemui terutama setelah libur Idul Fitri.

Seperti bagi 3 ibu tua ini. Meski di usia senja, semangat mereka tak ada habisnya untuk mencari nafkah bagi keluarga. Jauh dari anak-anak dilakoni demi mendapat sesuap nasi.

Adalah Ibu Aisyah (52), berasal dari Losarang Muntur, Indramayu, yang mencoba memulai peruntungannya. Ia tiba di Jakarta sebulan sebelum Lebaran untuk mencoba terlebih dahulu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah berkelana, akhirnya ia bisa berjualan di Stasiun Depok Baru. Dirasa sudah cukup cocok, ia kembali ke kampungnya lalu mengajak ibunya, Kastinem (73) dan temannya, Item (48).

Ketiganya tiba di Terminal Kampung Rambutan, Senin (20/7/2015). Dengan membawa barang bawaan dan kerupuk untuk dijual, mereka yakin Jakarta dapat membantu mereka menghidupi keluarga.

"Saya sudah duluan ke sini, sudah sebulan terus kemarin lebaran pulang. Ini ngajak ibu sama temen buat jualan di Stasiun Depok Baru. Jualan pecel sama kopi," ungkap Aisah sesaat setelah turun dari bus.

Aisah mengaku kesulitan mencari nafkah di kampungnya. Sepi pelanggan membuatnya nekat menyambangi ibu kota tanpa modal apa-apa selain keberanian.

"Denger-denger dari temen, terus akhirnya nyoba sendiri. Pengen coba aja, kalau orang susah selalu mikirnya tujuannya ke Jakarta buat cari uang. (Soalnya) di Jakarta rame sih ya, banyak orang. Jadi jualan laku," kata Aisah.

Di Depok, ia mengontrak kamar di Kampung Lio seharga Rp 400 ribu/bulan. Ia pun yakin ke depan usahanya bisa lebih baik lagi setelah mencoba selama 1 bulan. Aisah mendapat penghasilan bersih Rp 60 ribu/harinya selama berjualan di Stasiun Depok.

"Selama di Depok kemarin lumayan untuk ngempani anak-anak. Saya punya anak 5. Bisalah sedikit kirim uang. Biar anak bisa makan, nggak papa pake tempe sama tahu juga asal bisa makan sama sekolah," jelasnya.

Meski tujuannya di pinggiran Jakarta, Aisah mengaku sebenarnya merasa takut. Namun ketakutan itu dihalaunya dan tetap berusaha demi anak-anak.

"Sebenernya takut tapi berusaha. Takut sama kendaraan, takut ada pembersihan tapi untuk makanin anak sih mbak. Kalau takut anak nggak makan. Tapi di sini orang baik-baik, nggak kayak yang dikasih tahu orang," ucap Aisah lugu.

Suami Aisah sendiri sebenarnya masih ada dan sehat. Sayang menurutnya sang suami tak bisa terlalu diandalkan untuk dapat membiaya anak-anak.

"Suami nggak bisa usaha. Kerjanya buruh tani, kadang cari iwak (ikan). Kadang, dapat kadang nggak. Saya pengen, mudah-mudahan olih (dapat) banyak rezeki, bisa ngasih makan anak. Makanya saya terjun ke Jakarta," harap perempuan berjilbab ini.

Ibu Aisah, Kastem, terlihat sudah cukup rapuh. Dengan pakaian khas ibu-ibu desa, Kastem tetap terlihat semangat dan yakin kedatangannya akan membawa hasil.

"Saya nggak ikut jualan. Bantu masak pecel aja, terus nungguin rumah (kos). Yang jualan dia (Aisah), sekalian nemenin di sini," ujar Kastem saat dikonfirmasi.

Sementara itu, Ibu Item tertarik datang ke Jakarta karena mendapat cerita dari Aisah. Ia berharap dapat banyak uang dengan berjualan di luar Stasiun Depok.

"Katanya orangnya baik-baik makanya mau dateng. Lumayan kan bisa dapet uang. Di kampung dikit hasilnya kalau jualan," terang Kastem pada kesempatan yang sama.

Saling bergandengan, ketiga ibu tua itu pun lalu melanjutkan perjalanan dengan naik bus menuju Depok. Tak ada kekhawatiran yang terlihat dari Aisah, Kastem, dan Item. Membawa barang bawaan dari kampung, langkah ketiganya tampak enteng untuk menjadi bagian dari Ibukota. (ear/mok)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ajang penghargaan persembahan detikcom dengan Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) untuk menjaring jaksa-jaksa tangguh dan berprestasi di seluruh Indonesia.
Hide Ads