Ketika Tokoh Islam Protes Keras Penyerangan di Tolikara

Ketika Tokoh Islam Protes Keras Penyerangan di Tolikara

Hestiana Dharmastuti - detikNews
Minggu, 19 Jul 2015 09:47 WIB
Ketika Tokoh Islam Protes Keras Penyerangan di Tolikara
Foto: Ilustrasi/Foto: Beawiharta
Jakarta - Penyerangan terhadap umat muslim dan pembakaran musala saat salat Idul Fitri di Tolikara mengoyak toleransi beragama di Papua. Tokoh-tokoh Islam mengecam keras dan meminta insiden itu diusut hingga ke akarnya.

Kedamaian dan kerukunan beragama yang selama ini terjalin di Papua tiba-tiba dirusak oleh aksi puluhan orang yang melakukan penyerangan terhadap warga muslim yang sedang menunaikan salat Id di Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua pada Jumat 17 Juli 2015.

Sekitar 70 orang itu melakukan provokasi menolak agar tidak ada kegiatan Salat Id. Para penyerang kemudian melakukan pelemparan ke arah warga yang sedang salat pada sekitar pukul 07.10 WIT. Saat warga berhamburan menyelamatkan diri ke Koramil setempat, penyerang mulai membakar musala dan rumah yang juga difungsikan sebagai kios .

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Akibatnya total 70 rumah kios berkonstruksi papan kayu yang terbakar. Satu penyerang tewas dan 12 orang penyerang luka-luka. Sedangkan umat Islam yang tengah melakukan ibadah diketahui tidak ada korban.

Usut punya usut, penyerangan itu diduga dilatarbelakangi oleh sebuah surat edaran yang diduga dari Gereja Injili di Indonesia (GIDI) beredar di publik. Surat berisi imbauan yang meminta agar tidak ada kegiatan agama karena berlangsungnya kegiatan GIDI.

Sontak, insiden ini menorehkan luka bagi tokoh-tokoh Islam. Sejumlah tokoh Islam angkat bicara dan menyesalkan peristiswa ini terjadi. Mereka mengimbau agar umat Islam tidak terpancing dan tidak membalas aksi kelompok intoleran itu.

Para tokoh Islam juga satu suara meminta aparat kepolisian mengusut dan menindak para pelakunya sesuai hukum yang berlaku di Indonesia. Kini, pemerintah dan kepolisian masih melakukan investigasi untuk mengungkap kasus ini.

Berikut 5 protes keras tokoh Islam:

1. Din: Sungguh Sangat Disesalkan

Foto: Hasan Alhabshy
Ketua Umum MUI Din Syamsuddin meminta agar umat islam tak terpancing atas insiden di Karubaga Papua. Din menyampaikan, umat islam harus menunjukkan jati diri umat yang toleran.

"Terkait aksi kekerasan terhadap umat Islam di Papua sungguh sangat disesalkan. Di tengah upaya kita membangun toleransi antar umat beragama, namun ternyata masih ada kelompok yang intoleran bahkan dgn menebar benci dan aksi kekerasan pada hari suci umat agama lain," terang Din, Jumat (17/7/2015).

Din juga menegaskan, agar umat Islam mampu menahan diri dan tidak perlu melakukan pembalasan. "Tunjukkan bahwa kita adalah umat yang toleran. Namun kepada Polri kita minta agar mengusutnya dan menindak para pelakunya sesuai hukum yang ada," tutup dia.

Din juga meminta agar kasus penyerangan dan pembakaran masjid itu diserahkan ke pihak kepolisian. Biarkan polisi yang bekerja.

Imbauan Din ini diharapkan bisa menenangkan umat islam. Apalagi dikhawatirkan ada oknum-oknum yang sengaja memancing dengan memanas-manasi.

2. Wasekjen PKB: Mencederai Kehidupan Berbangsa

Foto: Rengga Sancaya
Peristiwa penyerangan warga yang sedang salat Id di Kababuga, Kabupaten Tolikara, Papua, membuat sejumlah pihak prihatin. PKB meminta agar pihak berwenang segera mengusut tuntas kasus tersebut.

"PKB mengutuk keras kejadian di Tolikara, Papua," ujar Wasekjen PKB Daniel Johan kepada detikcom, Sabtu (18/7/2015).

Dalam suasana Idul Fitri, menurut Daniel seharusnya dapat dijadikan momen untuk semakin memperkuat persaudaraan, silahturahmi dan saling memaafkaan. Untuk itu, peristiwa yang berujung pada pengrusakan rumah ibadah itu pun menurutnya tak dapat dibenarkan.

"Aparat pemerintah harus bertanggung jawab, peristiwa ini menunjukkan lemahnya fungsi intelijen. Pihak berwenang harus segera mengusut secara cepat agar tidak merembet ke hal-hal yang semakin memperlemah persaudaraan sesama anak bangsa," kata Daniel.

"Para tokoh agama segera memperkuat dialog karena tugas agama adalah membangun persaudaraan, keadilan dan kedamaian secara nyata untuk kehidupan manusia dan masyarakat," sambung anggota DPR itu.

"PKB sangat menyesalkan kejadian di Tolikara dan ini mencederai kehidupan berbangsa kita. Tugas pemerintah menjamin setiap warganya untuk mejalankan ibadah secara aman dan damai. Itu tugas konstitusi yang wajib dijalankan," kata Daniel.

3. MAARIF Institute: Menodai Kerukunan

Foto: Ilustrasi/Foto: Beawiharta
MAARIF Institute menyesalkan terjadinya aksi penyerangan terhadap umat Islam yang sedang menjalankan salat Id pada Jumat pagi di Tolikara, Papua. Insiden tersebut dinilai telah menodai suasana kerukunan umat beragama.

Adanya keterlibatan Gereja Injili Di Indonesia (DIGI) dalam insiden tersebut juga sangat disesalkan. Direktur Eksekutif MAARIF Institute Fajar Riza Ul Haq mengatakan ada tiga hal yang mendesak untuk segera dilakukan agar konflik tak meluas.

Pertama, pihak kepolisian harus mengusut kebenaran surat yang dikeluarkan oleh DIGI. Surat tersebut, kata Fajar, dapat dianggap sebagai bentuk ancaman bahkan teror terhadap eksistensi kelompok-kelompok keagamaan lain di wilayah Tolikara.

Fajar mendesak kepolisian untuk segera menangkap dan mengusut motif dan aktor di balik aksi penyerangan tersebut agar tak berlarut-larut sehingga menimbulkan opini liar di masyarakat.

Kedua, pemerintah harus menerapkan kebijakan sistematis dalam mengelola kemajemukan di bumi Papua. "Semakin derasnya arus migrasi ke Papua membuat lebarnya pintu masuk paham-paham keagamaan yang mungkin tidak menjunjung tinggi semangat perbedaan," kata Fajar melalui keterangan tertulisnya, Sabtu (18/7/2015).

Ketiga, organisasi keagamaan Kristen moderat harus bersikap pro aktif membuka komunikasi dengan kelompok-kelompok Islam guna mencegah salah paham. Mereka harus memberikan informasi mengenai dinamika kelompok-kelompok Kristen yang sebenarnya tidak monolitik.

"Jangan sampai masyarakat terseret opini yang mengeneralisasikan benturan kelompok-kelompok ekstrem dari masing-masing agama yang jumlahnya kecil," kata Fajar.

4. Ulil Abshar: Melanggar Konstitusi

Foto: Ilustrasi/Foto: Beawiharta
Insiden penyerangan terhadap umat muslim di Karubaga, Tolikara, Papua, disesalkan banyak pihak. Meski demikian, masyarakat Indonesia diharapkan tak terpancing dan mewaspadai segala bentuk provokasi, utamanya yang ada di media sosial.

"Isu kekerasan atas rumah ibadah jelas sangat sensitif. Karena itu, kami mengimbau masyarakat untuk tidak termakan oleh spekulasi yang bernada provokatif yang biasanya menyebar lewat media sosial," kata Jubir Partai Demokrat (PD) Ulil Abshar Abdalla dalam pernyataan tertulis yang diterima, Sabtu (18/7/2015).

Ulil mengatakan tindakan vandalisme dan kekerasan atas rumah ibadah apapun tak bisa dibenarkan dan harus ditolak sekeras-kerasnya. Penegak hukum harus menindak tegas pelaku pembakaran masjid di Karubaga. Penegak hukum harus segera mengungkap apa yang sebetulnya terjadi di balik peristiwa ini sehingga memupus segala bentuk spekulasi yang bisa menjadi bahan provokasi di tengah-tengah masyarakat.

"Kami tahu hubungan antar umat beragama di Papua selama ini sangat baik dan damai. Suasana ini harus tetap dijaga, jangan sampai dirusak oleh tindakan sekelompok orang yang belum tentu mewakili sikap keberagamaan yang dominan di komunitas agama bersangkutan," ujarnya.

Koordinator Jaringan Islam Liberal ini menyesalkan kekurangsigapan aparat keamanan mengantisipasi insiden tersebut. Padahal, menurut Ulil, sudah ada indikasi terjadinya insiden dengan munculnya selebaran yang bernada provokasi sejak kira-kira seminggu sebelum peristiwa tersebut terjadi.

"Beribadah merupakan hak bagi setiap warga negara yang dilindungi oleh konstitusi. Perusakan atas rumah ibadah berlawanan dengan dasar konstitusional ini. Prinsip ini harus dijadikan dasar dalam melihat kehidupan keberagamaan di negeri kita," pungkasnya.

5. GP Ansor: Mengusik Ketenangan Ibadah

Foto: CNNIndonesia/Resty Armenia
Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Nusron Wahid menyesalkan aksi penyerangan terhadap warga yang tengah melaksanakan solat idul fitri di Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua. Terlebih lagi ada beberapa kios dan rumah warga yang terbakar dampak penyerangan tersebut.

Nusron menilai insiden penyerangan tersebut bisa mengusik ketenangan dalam beribadah. Dia pun meminta polisi mengusut tuntas aksi tersebut agar tidak melebar ke konflik dan kerusuhan yang mengatasnamakan agama.

"Jangan sampai ini meluas menjadi konflik agama. Hukum harus ditegakkan, dan negara wajib menjamin warganya dalam menjalankan ibadah," kata Nusron di sela kunjungannya ke Seoul, Korea Selatan, Jumat (17/7/2015) waktu setempat.

Saat ini kondisi di Tolikara sudah kondusif. Tidak ada kelompok warga yang berkumpul di satu titik. "Kami terus melakukan penjagaan," kata Kabid Humas Polda Papua Kombes Patridge Renwarin saat dikonfirmasi, Sabtu (18/7/2015).

Kemarin polisi memeriksa 5 orang saksi yang menjadi korban penyerangan. Pemeriksaan terhadap saksi lainnya akan dilanjutkan hari ini.

"Ada 5 orang saksi dari jamaah salat Id yang sudah diperiksa di Polres setempat," kata Patridge.

Saat ini polisi masih mengembangkan hasil pemeriksaan untuk menetapkan tersangka pelaku penyerangan. "Hari ini akan meminta keterangan dari ustad yang memimpin salat Id kemarin," sambung Patridge.

Halaman 2 dari 6
(aan/ndr)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads