Profesi Mamat kerap dipandang sebelah mata oleh kebanyakan warga Jakarta. Namun siapa sangka dengan pekerjaannya yang sibuk mengais-ngais tumpukan sampah mencari kardus dan sampah botol plastik bekas, masih mampu menyekolahkan anaknya hingga jenjang SMA.
"Alhamdulilah, kalau anak paling besar sudah nikah, dan yang paling kecil baru mau lanjut SMA," kata bapak satu cucu ini, Minggu (19/7/2015) dini hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Alhamdulillah cukup untuk menyekolahkan anak. Biarlah stop bapaknya saja yang begini jangan sampai anak tidak mengikutin," terang dia.
Selama 15 tahun, Mamat harus bekerja keliling lapak-lapak tempat sampah mengais-ngais sampah yang nantinya dikumpulkan dan dibawa didalam gerobaknya hingga sampai ke pengepul. Di tempat pengepul tumpukan kardus bekas dan botol plastik dihargai Rp 25 ribu perkilo.
"Kalau bisa keliling bawa kardus sama botol plastik banyak bisa dapet Rp 100-150 ribu, tapi kalau pas sepi dari pagi sampai malam cuma dapat Rp 25 ribu saja sudah syukur," sambungnya.
Ia sudah sempat merasakan berkeliling kota Jakarta sebagai manusia gerobak. Hingga akhirnya dia menemukan lapak pengepul yang baik dan memberikannya tempat tinggal bersama pengumpul barang bekas lainnya.
"Dulu sudah sempat di Tebet, sampai di tempatkan di rumah petak milik tengkulak pengepul kardus dan botol. Jadi nggak harus keliling jauh-jauh lagi dari lapak pengepul," imbuhnya. (dra/dra)











































