Mamat Manusia Gerobak Pengumpul Barang Bekas Bertutur Saat Cari Uang di Jakarta

Mamat Manusia Gerobak Pengumpul Barang Bekas Bertutur Saat Cari Uang di Jakarta

Aditya Fajar, - detikNews
Minggu, 19 Jul 2015 07:48 WIB
Mamat Manusia Gerobak Pengumpul Barang Bekas Bertutur Saat Cari Uang di Jakarta
Foto: Aditya Fajar/detikcom
Jakarta - Apapun pekerjaannya yang utama adalah halal. Berkeringat dan tak harus meminta-minta mengemis dari orang lain. Mungkin itu sepengal pesan yang diceritakan Mamat (45), bapak 2 orang anak asal Garut, Jawa Barat.

Profesi Mamat kerap dipandang sebelah mata oleh kebanyakan warga Jakarta. Namun siapa sangka dengan pekerjaannya yang sibuk mengais-ngais tumpukan sampah mencari kardus dan sampah botol plastik bekas, masih mampu menyekolahkan anaknya hingga jenjang SMA.

"Alhamdulilah, kalau anak paling besar sudah nikah, dan yang paling kecil baru mau lanjut SMA," kata bapak satu cucu ini, Minggu (19/7/2015) dini hari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya biarlah hanya dia saja yang bekerja sebagai pemulung dan manusia gerobak, tapi jangan sampai anaknya mengikutinya. Mamat ini bukan manusia gerobak dadakan yang kerap membawa anak di gerobaknya. Mamat benar-benar manusia gerobak pemulung sampah. Jadi kini ada dua jenis manusia gerobak, yang satu musiman memang pengemis dan yang satu lagi manusia gerobak pemulung sampah.

"Alhamdulillah cukup untuk menyekolahkan anak. Biarlah stop bapaknya saja yang begini jangan sampai anak tidak mengikutin," terang dia.

Selama 15 tahun, Mamat harus bekerja keliling lapak-lapak tempat sampah mengais-ngais sampah yang nantinya dikumpulkan dan dibawa didalam gerobaknya hingga sampai ke pengepul. Di tempat pengepul tumpukan kardus bekas dan botol plastik dihargai Rp 25 ribu perkilo.

"Kalau bisa keliling bawa kardus sama botol plastik banyak bisa dapet Rp 100-150 ribu, tapi kalau pas sepi dari pagi sampai malam cuma dapat Rp 25 ribu saja sudah syukur," sambungnya.

Ia sudah sempat merasakan berkeliling kota Jakarta sebagai manusia gerobak. Hingga akhirnya dia menemukan lapak pengepul yang baik dan memberikannya tempat tinggal bersama pengumpul barang bekas lainnya.

"Dulu sudah sempat di Tebet, sampai di tempatkan di rumah petak milik tengkulak pengepul kardus dan botol. Jadi nggak harus keliling jauh-jauh lagi dari lapak pengepul," imbuhnya. (dra/dra)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads