Keberadaan manusia gerobak ini sebenarnya dikeluhkan para pemulung asli. Nah, para pemulung asli ini tak berharap belas kasihan semata, mereka membawa gerobak memang memulung.
Mamat salah seorang pengumpul barang berkas berbagi cerita bagaiman membedakan mana pemulung serta manusia gerobak yang asli dan mana yang musiman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saat orang akan memberikan sedekah pasti mereka akan langsung menghampiri dan mengerubungi warga yang memberikan sedekah, padahal tadinya hanya duduk-duduk di pinggir jalan," cerita kepada detikcom, Minggu dini hari (19/7/2015).
Mamat yang bercerita, walau pekerjaannya ini adalah pekerjaan yang hina karena hanya bisa mengumpulkan barang dan sampah bekas, ia tidak ingin hanya duduk berpangku tangan menunggu sumbangan dari orang lain.
"Kasarnya walaupun kita kerjaannya hina tapi kita masih mau kerja ngumpulin kardus sama botol-botol plastik biar dijual di pengepul. Kalau yang musiman ya gitu ada orang ngasih sedekah mereka nyamperin, ada masjid yang mau kasih sumbangan juga meraka datengin," lanjutnya.
Para pemulung serta manusia gerobak musiman biasanya datang saat bulan ramadan dan akan bertambah banyak menjelang lebaran. Kebanyakan mereka merupakan warga pinggiran kota yang dapat diakses melalui kereta.
"Kebanyakan mereka itu asalnya dari pinggiran kota, biasanya yang bisa naik kereta kayak Tambun, Bogor, Parung atau Rangkas Bitung. Ada juga si yang dari luar kota," imbuhnya. (dra/dra)










































