Seperti terlihat di lingkungan RT 016/03 di mana terletak Masjid Jami Al Marzuqiyah berdiri, Sabtu (18/7/2015). Para warga berkeliling ke rumah tetangga untuk berlebaran dan saling bermaaf-maafan.
Di gang-gang tampak warga berpapasan dan lalu bersalaman. Ada yang rombongan, ada pula yang satu keluarga atau seorang diri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terlihat juga mayoritas rumah di lingkungan ini ramai didatangi para keluarganya. Mereka saling bercengkerama sambil menikmati hidangan khas lebaran.
Sebenarnya tidak semua warga setempat mengikuti ajaran Al Marzuqiyah. Sebagian tetap berlebaran kemarin, Jumat (17/7), mengikuti pemerintah.
"Nggak ada perbedaan mahzab. Kita juga menghormati yang mau ikut pemerintah, nggak ada paksaan. Tapi emang mayoritas kalau yang asli sini ikut ajaran Guru Marzuki," ungkap seorang warga, Zaenal Arifin di rumahnya.
"Kemarin di sini sepi, karena mereka yang Id kemarin, menghormati di sini. Jadi baru pada ramai Lebaran sekarang. Makanya ini banyak yang mondar-mandir, ya sama kayak yang lain maaf-maafan," sambung Arifin.
Ajaran Al Marzuqiyah berbeda dalam penetapan rukyah hilal. Bagi mereka jika hilal tak terlihat dalam posisi 7 derajat, maka puasa digenapi menjadi 30 hari.
"Cuma beda itu aja sih sebenarnya. Kalau awal puasa sama seperti lainnya. Lagian nggak setiap tahun beda, seringnya malah sama kayak pemerintah. Sekarang kebetulan hilal nggak sampai 7 derajat, jadi puasa kita genapi 30 hari. Takbiran baru semalam," tutur pria berusia 46 tahun itu.
Hingga siang hari, masih terlihat sejumlah warga saling mengunjungi untuk bermaaf-maafan. Namun ada juga yang sudah berkumpul di rumah dan mendapat kunjungan dari keluarga jauh.
"Iya ini kumpul. Tadi rame-rame abis ke rumah tetua, sama lingkungan sini juga tapi beda RT. Pada ada yang datang juga ke sini," pungkas Arifin. (ear/erd)










































