Adanya keterlibatan Gereja Injili Di Indonesia (DIGI) dalam insiden tersebut juga sangat disesalkan. Direktur Eksekutif MAARIF Institute Fajar Riza Ul Haq mengatakan ada tiga hal yang mendesak untuk segera dilakukan agar konflik tak meluas.
Pertama, pihak kepolisian harus mengusut kebenaran surat yang dikeluarkan oleh DIGI. Surat tersebut, kata Fajar, dapat dianggap sebagai bentuk ancaman bahkan teror terhadap eksistensi kelompok-kelompok keagamaan lain di wilayah Tolikara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua, pemerintah harus menerapkan kebijakan sistematis dalam mengelola kemajemukan di bumi Papua. "Semakin derasnya arus migrasi ke Papua membuat lebarnya pintu masuk paham-paham keagamaan yang mungkin tidak menjunjung tinggi semangat perbedaan," kata Fajar melalui keterangan tertulisnya, Sabtu (18/7/2015).
Ketiga, organisasi keagamaan Kristen moderat harus bersikap pro aktif membuka komunikasi dengan kelompok-kelompok Islam guna mencegah salah paham. Mereka harus memberikan informasi mengenai dinamika kelompok-kelompok Kristen yang sebenarnya tidak monolitik.
"Jangan sampai masyarakat terseret opini yang mengeneralisasikan benturan kelompok-kelompok ekstrem dari masing-masing agama yang jumlahnya kecil," kata Fajar. (erd/erd)











































