Alhamdulillah saya telah diberikan kesempatan untuk merasakan berpuasa di negara subtropis. Pada tahun 2010 saya mengikuti sebuah konferensi di Seoul, Korea Selatan selama sepuluh hari yang bertepatan dengan bulan Ramadan. Dengan demikian, saya menjalani puasa selama 15,5 jam karena musim panas membuat saya mulai berpuasa pukul 4 pagi dan berbuka pukul 7.30 malam. Makanan yang dikonsumsi untuk berbuka puasa dan sahur pun berbeda, bukan kolak serta es timun suri melainkan ramyeon dan kimchi.
Lain halnya dengan tahun ini, Allah menakdirkan saya dan keluarga untuk menjalani Ramadan di UK. Tiga hari pertama Ramadan kami jalani di London dan Oxford dalam keperluan pembuatan paspor di KBRI London untuk anak kami yang pertama. Karena berada di bagian selatan UK, kami berpuasa dalam durasi sekitar 18,5 jam. Pada hari-hari berikutnya, saya menjalani ibadah puasa di Glasgow. Kota terbesar di Skotlandia ini berada di bagian utara UK, sehingga durasi berpuasa di sini lebih panjang dibandingkan dengan di London dan Oxford, yaitu sekitar 19 hingga 19.5 jam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Walaupun berdurasi lebih panjang, berpuasa di UK terasa lebih ringan dibandingkan dengan berpuasa di Indonesia karena kami baru menjalani tidur malam selepas menunaikan salat subuh serta suhu yang sejuk membuat kami tidak merasa lapar maupun dahaga sebagaimana yang kami rasakan ketika di Indonesia.
Berpuasa di UK juga tidak terasa hampa karena adanya teman-teman di PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) dan KIBAR (Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya) sehingga rasa rindu terhadap Tanah Air dapat terobati. Begitu pula di masjid, banyaknya saudara seiman dari Pakistan, Irak, Arab Saudi, Sudan, Malaysia, dan negara lainnya termasuk penduduk asli Skotlandia yang beragama Islam yang mengikuti acara berbuka puasa hingga itikaf bersama membuat nuansa Ramadan senantiasa terasa sekalipun berada di negeri yang mayoritas penduduknya beragama non muslim.
Dengan saya berpuasa dalam tiga durasi yang berbeda selama di UK, membuat saya menjalani ibadah puasa dalam lima durasi yang berbeda jika ditambahkan dengan pengalaman saya di Indonesia dan Korea. Semoga Allah memberikan kesempatan kepada kami untuk berpuasa dalam durasi yang berbeda di tahun depan dengan menjejakkan kaki di belahan bumi yang lain, sehingga pada hari akhir nanti, belahan bumi Indonesia, belahan bumi Korea, belahan bumi UK, serta belahan bumi lainnya dapat bersaksi bahwa kami pernah melekatkan kening ini ketika bersujud, dan kami pernah menjalani ibadah puasa di sana.
*) Eko Aditya Rifai, mahasiswa MSc in Bioinformatics, Polyomics, and Systems Biology, University of Glasgow, UK/ Ketua Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya (KIBAR) lokaliti Glasgow (slm/rni)











































