Ramadan di Ghent Belgia, Mudah Cari Bahan Kolak dan Masak Sendiri

Ramadan 2015

Ramadan di Ghent Belgia, Mudah Cari Bahan Kolak dan Masak Sendiri

Arifin Dwi Saputro - detikNews
Selasa, 14 Jul 2015 16:40 WIB
Ramadan di Ghent Belgia, Mudah Cari Bahan Kolak dan Masak Sendiri
Foto: Arifin Dwi Saputro
Ghent - Puasa Ramadan merupakan kewajiban bagi seluruh umat Islam di dunia. Seperti halnya umat Islam di Indonesia, saya dan para mahasiswa muslim Indonesia lainnya yang sedang menjalani studi di Ghent, Belgia juga menjalankan ibadah puasa yang dimulai dari terbit fajar (subuh) hingga saat magrib tiba.

Perbedaan yang paling mencolok antara puasa di Belgia dan di Indonesia adalah tentang durasinya, tentu saja diikuti dengan berbagai perbedaan-perbedaan yang tidak terlalu mencolok lainnya. Beberapa perbedaan-perbedaan itu di antaranya adalah tidak banyak terdengarnya lantunan ayat suci Alquran dibandingkan di Indonesia yang mana akan menjadi lebih sering didengar saat bulan puasa, tidak adanya "pasar-pasar kaget" yangΒ  menjual makanan khas Ramadan seperti lazimnya bulan Ramadan di Indonesia, dan tentu saja tidak dijumpai adanya aktifitas ngabuburit menjelang berbuka.

Hal ini wajar saja mengingat Belgia adalah sebuah negara dengan presentase umat muslim yang cukup kecil. Pada musim panas seperti ini, di mana lama waktu siang hari menjadi lebih panjang dari waktu malam hari dan suhu udara cenderung lebih panas dibandingkan musim-musim lainnya,Β  menjalankan puasa Ramadan tentu memiliki tantangan tersendiri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Puasa Ramadan di Belgia pada musim panas ini dimulai sekitar pukul 03.15 pagi/dini hari dan diakhiri pada saat Magrib tiba sekitar pukul 22.00 waktu Belgia. Total waktu puasa setiap harinya adalah sekitar 19 jam. Durasi ini lebih lama sekitar 5 jam dari waktu puasa di Indonesia. Β 

Puasa Ramadan tahun ini menjadi puasa Ramadan kedua kalinya untuk keluarga kecil kami di Ghent Belgia. Kebetulan tahun ini adalah tahun kedua bagi saya dan istri saya menempuh pendidikan kami di Ghent University, Belgia. Aktifitas rutin (penelitian di laboratorium) mulai pagi hari sampai sore menjelang malam membutuhkan energi yang tidak sedikit. Untuk mengatasi waktu berpuasa yang lebih panjang ini, hal utama yang menjadi keharusan untuk kami adalah minum air sebanyak-banyaknya pada saat malam hari sehingga keesokan harinya kemungkinan akan dehidrasi dapat diminimalkan. Β 

Terkait dengan menu berbuka puasa, Alhamdulillah kami di sini masih cukup mudah mendapatkan kurma, bahan-bahan untuk membuat kolak bubur, maupun daging halal yang dijual oleh pedagang muslim di sini. Hanya saja untuk mengolahnya menjadi makanan khas berbuka puasa seperti di Indonesia, kami membutuhkan usaha lebih, yaitu memasaknya sendiri. Β 

Untuk membunuh waktu kami, sehingga puasa yang kami jalani menjadi tidak terasa, kami mencoba untuk tidak mengosongkan waktu yang kami miliki hanya dengan menunggu. Beberapa hal yang bisa dilakukan di antaranya dengan membaca, menulis, menyelesaikan tugas-tugas dan lain sebagainya.Β Β  Agar suasana Ramadan lebih terasa sekaligus mempererat tali silaturahim, dua kali dalam seminggu kami mengikuti buka puasa dan salat tarawih bersama dengan anggota KPMI (Keluarga Pengajian Muslim Indonesia) Ghent dan atau mahasiswa PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Ghent, Belgia.

PPI Ghent Belgia (Foto: Arifin Dwi Saputro)


Buka puasa Ramadan ini biasanya dilaksanakan di perpustakaan salah satu perumahan mahasiswa di Ghent atau juga terkadang di salah satu apartemen mahasiswa Indonesia secara bergiliran. Suasana seperti ini setidaknya dapat mengobati kerinduan akan suasana Ramadan di Tanah Air.Β Β 

Berbekal beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana pendidikan (LPDP) RI, Insyaallah selama dua tahun ke depan kami masih akan menjalani puasa Ramadan di musim panas seperti saat ini. Tentunya kami akan menjadi lebih terbiasa lagi. Semoga. We never know.. Β 

*) Arifin Dwi Saputro sedang menempuh studi S3 bidang Bioscience Engineering di Ghent University Belgia, anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Belgia.

*) Artikel ini terselenggara atas partisipasi dari Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia
Halaman 2 dari 1
(nwk/nwk)


Berita Terkait