Pilar dulu bekerja di toko parfum milik seorang muslim dari Arab. Di sana ia membaca tulisan Allah dalam bahasa arab yang tidak ia pahami maknanya. Hingga kemudian ia tertarik untuk mempelajari aksara Arab di masjid.
Saat di masjid itulah, ia mendengar nama Allah dikumandangkan melalui azan. Hati Pilar bergetar saat itu juga. Dan ia ingin memeluk Islam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pilar sangat bangga menyandang predikat muslim dan menunjukkan identitas melalui hijabnya. Meski hal ini membutuhkan keberanian besar.
"Orangtua saya menolak mentah-mentah dan marah besar, 'Kenapa kamu pakai jilbab, sama dengan yang dipakai para pembunuh?' Mereka menyuruh saya tidak puasa ketika Ramadan. Saya mengontrol diri sendiri dan tidak merespon balik. Saya anggap angin lalu dan merasa ini adalah perubahan baik. Alhamdulillah kini ayah saya sudah melunak. Dan ia membelikan sebuah hijab untuk saya. Saya dan ibu saya masih jarang berbicara hingga kini," kisahnya.
Keberanian yang dimiliki Pilar menular ke putrinya Camila yang baru berumur 7 tahun.
(Aditya Jakun - Trans7) |
"Teman-teman Camilla sering mengganggunya di sekolah karena ia memakai hijab. Jadi saya bilang kepadanya, tidak apa-apa kalau kamu mau melepas hijabmu, tidak perlu memakainya di sekolah. Camilla menangis dan bilang kepada saya, 'Bagaimana dengan Allah jika saya melepas hijab?'. Dan hingga kini Camilla tidak pernah melepas hijabnya," tuturnya.
Rasa cinta yang begitu besar pada Allah membuat Pilar mampuΒ melewati segala rintangan karena ia yakin Allah selalu bersamanya. Suami Pilar juga telah memeluk Islam dan mereka menikah ulang secara islami 3 tahun silam.
Pilar kini mengabdikan hidupnya di masjid dan menjadi staf administrasi. Hanya satu tujuannya, agar ia bisa senantiasaΒ dekat dengan Allah
Saksikan kisah lengkap Pilar Herrera, muslimah dari Ekuador, hanya di program "Jazirah Islam" pada Rabu 15 Juli 2015 pukul 05.15 WIB hanya di TRANS7.
Halaman 2 dari 1












































(Aditya Jakun - Trans7)