"Saya menemukan, kata Allah, nggak cuma kita mengucap dua kalimat syahadat dan masuk Islam, trus selesai. Nggak semudah itu," tutur Idris saat membagi perjalanannya setelah menjadi mualaf pada detikcom di Masjid Istiqlal pada Kamis (2/7/2015) lalu.
Tak berapa lama setelah mengucap dua kalimat syahadat, Idris menikahi seorang muslimah. Idris merasakan sendiri sulitnya hidup setelah mengucap dua kalimat syahadat dan menikah ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Idris dan istrinya memiliki banyak kerabat beragama Islam yang berkecukupan. Namun, menurutnya, sedikit yang mempedulikan dirinya sebagai mualaf.
"Saya orang Islam, masuk Islam, tapi sebal dengan orang Islam," tutur pria 35 tahun ini menyampaikan perasaannya saat itu.
Padahal, saudara-saudaranya itu dinilai tak pernah meninggalkan salat, puasa, bahkan ibadah sunah pun dikerjakan. Satu hal yang bisa diambil pelajaran dari ketidakpedulian saudara-saudara Islamnya itu.
"Pelajaran buat saya bahwa salat, puasa bukan sekedar salat dan puasa. Bentuk contoh Nabi besar Muhammad SAW, salat bukan sekedar gerak, ibadah, salat bukan sekedar gerak mulut. Tapi salat dalam perwujudan akhlak, dari salat itu sendiri," tuturnya. Β
Setidak peduli apa saudara muslim itu sampai Anda sebal?
"Nggak usah dari pemberian, dari bahasa saja, tidak ada yang mengatakan pada saya 'Bagaimana salat saya?' itu. Setidaknya, tanyakan 'Kabarnya bagaimana?' Itu aja," tutur pria yang kini tinggal di Tanah Abang, Jakarta Pusat ini.
Saking susah dan tak ada saudara muslimnya yang membantu, pria beranak dua ini pernah mengisahkan membeli 2 bungkus nasi, sayur sop dan 2 bakwan. Satu bungkus dimakan berdua oleh dua anaknya, dan sebungkus lagi dimakan berdua dirinya dan sang istri.
"Saya mengalami seperti itu di saat saudara-saudara yang lain bisa makan dan minum berlebih saat berbuka. Saya sempat berteriak dalam hati," kenangnya.
Cuma, semakin ke sini, Idris semakin yakin bahwa perilaku saudara-saudaranya itu merupakan bentuk ujian dari Allah SWT.
"Saya bilang ada dua kacamata. Pertama ujian sebagai mualaf, dan kedua ujian menjadi seorang muslim. Saya berpikir Allah menyayangi saya," tutur pria yang mengucap syahadat pada tahun 2008 lalu ini.
Dari pengalamannya ini, dia ingin mengingatkan umat muslim semua, untuk lebih memperhatikan saudara mereka yang mualaf.
"Nggak usahlah ngasih duit dalam masalah ini. Tanya, 'Assalamualaikum, apa kabar?', 'Gimana keluarga, sehat?' Itu aja. Nggak sulit. Itu pun setahun setelah saya mengucapkan kalimat syahadat, nggak lebih dari 3 orang yang mengatakan hal ini kepada saya," tuturnya.
"Kalau ada mualaf dia hari Senin ucap syahadat, besok dia kembali ke agamanya semua, itu bukan salahnya dia. Itu salahnya umat Islam yang tak peduli sama dia," tuturnya.
Namun, sekali lagi, Idris menekankan tidak bisa menyalahkan saudara-saudara muslim itu. Mereka, bagi Idris, saudara muslim yang tak peduli adalah ujian tersendiri dari Allah SWT.
"Insyaallah ini jadi pembelajaran untuk umat Islam lain, untuk setidaknya lebih memperhatikan saudara-saudara muslim kita yang mualaf," pesan dia.
Halaman 2 dari 1











































