Β
Menjalankan ibadah puasa di musim panas, tentu tidak hanya sekedar melawan lapar, dahaga, dan hawa nafsu saja, namun juga melawan hawa panas yang terkadang sangat begitu menyengat. Tak terkecuali di musim panas di tahun 2015 ini. Pada minggu ketiga Ramadan, saya melihat perkiraan cuaca bahwa temperatur udara selama seminggu ke depan berkisar antara 33 hingga 38 derajat Celcius dan puncaknya adalah saat akhir pekan, yaitu 39-40 derajat Celcius!
Β
Melihat temperatur udara yang begitu panas, sebagai manusia normal yang sedang berpuasa, saya dan teman-teman ingin rasanya hanya berdiam diri di dalam rumah sambil menunggu waktu berbuka tiba, daripada sekedar untuk berjalan-jalan keluar dan melihat betapaΒ nikmatnya orang-orang sekitar menikmati segarnya ice cream dan menenguk minuman segar di siang hari.
Namun sayang, karena profesi kami sebagai mahasiswa dan tuntutan pekerjaan, kami harus untuk tetap aktif mengikuti jam perkuliahan dan beraktifitas di luar ruangan. Namun siapa bilang berpuasa di sini begitu sengsara? Ternyata menjalankan puasa di negeriΒ orang juga bisa sangat menyenangkan, karena di sinilah waktunya berwisata kuliner dan gratis!
Seperti kebanyakan pada waktu berbuka puasa, masjid-masjid di kota saya tinggal, Mayence-Jerman, menyediakan iftar alias berbuka gratis satu bulan penuh bagi jamaahnya. Menariknya adalah dikarenakan umat muslim di negara Jerman datang dari berbagai belahan negara, menu iftar yang disediakan pun beranekaragam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menu yang berbeda saya dapatkan ketika mencoba menu iftar di masjid masyarakat Maroko dan masyarakat Mesir. Meski cita rasa masakan yang ditawarkan tidak jauh berbeda, namun keanekaragaman budaya dan tradisi baru saat berbuka puasa menjadi keunikan tersendiri bagi saya. Β
(Foto: Esti P - dokumen pribadi) |
Jika saya mulai rindu akan masakan Indonesia, saya datang ke iftar bersama yang disediakan setiap hari oleh Masyarakat Muslim Indonesia (MMI) Frankfurt. Alhamdulillah, di sana terjaminlah kesejahterahan perut saya dan teman-teman sebagai anak perantauan yang rindu masakan Indonesia. Menu es campur, bubur sumsum, kacang hijau, kolak, pecel, sayur asem, tumis daun singkong ikan teri, sambal hijau, bakso, rendang tidak absen dalam menu iftar. Β
Menyenangkan bukan? Penasaran merasakan sensasi berpuasa di negeri orang? Β
*) Esty Prastyaningtias mahasiswi Indonesia yang saat ini berada di Kota Mayence, Jerman untuk melanjutkan studi ke jenjang master.
Halaman 2 dari 1












































(Foto: Esti P - dokumen pribadi)