Di Masjid Istiqlal bakda Asar pada Kamis (2/7/2015) lalu, di sela angin sepo-sepoi, pria 35 tahun itu memulai membagi perjalanan menemukan Islam kepada detikcom. Dia tak bersedia disebutkan namanya. Maka, sebutlah dia, Idris.
"Dari awal perkenalan saya dengan Islam, itu bukan agama baru buat saya. Saya sering lihat, saya sering tahu waktu saya masih kecil," tuturnya memulai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Idris sempat menuturkan kisah baliknya semasa muda. Saat dia bersekolah di sekolah teknik menengah (STM), Idris mengakui bahwa dia adalah biang kerok yang sangat bandel.
"Sempet bingung, saya STM biang kerok, biang kerok. Bandel banget, suka ngecengin, ngeledekin orang, ABCD sampai Z keluar semua. Kuliah pun saya nakal, saya termasuk yang paling ribut saat kuliah," tutur ayah dari 2 orang anak ini.
Dia mengakui dengan besar hati, nyaris semua kenakalan-kenakalan dilakukannya.
"Minuman keras, tiap malam saya minum. Saya nge-ganja, saya main judi. Minuman keras, boleh disebut, apapun mereknya, saya minum," ungkapnya.
Hingga suatu saat, pada masa kuliah, Idris mengantar dan menunggu teman yang salat di masjid. Selama menunggu teman yang salat di masjid itu, Idris terkadang suka tiduran di teras masjid.
"Sambil menunggu, sambil tiduran, saya amati teman saya salat, kok tenang, nyaman banget," tuturnya.
Ditambah lagi, saat itu, dirinya dipertemukan dengan kekasih hatinya yang seorang muslimah. Maka pada 2008, dia mengucap syahadat di suatu masjid di Tanah Abang. Beberapa saat setelah menjadi mualaf, dia menikah dengan kekasih hati itu.
Hingga suatu titik, setelah menjadi mualaf, dia mendalami ajaran Islam. Ajaran-ajaran dalam Islam, membuat Idris berhasil menghilangkan 'kenakalan' yang dilakukannya.
"Tapi sampai satu titik berkatalah dengan yang baik, panggillah saudaramu dengan panggilan yang baik. Kalau seandainya, orang mualaf mengetahui betapa mereka seharusnya amat, sangat, beruntung, sekali, mereka sudah dibimbing ke agama yang benar, agama yang baik, dengan keberadaan sosok Rasulullah, itu yang menjadi motivasi saya," tutur Idris penuh haru.
Halaman 2 dari 1











































