Kunto, Sang Budayawan, Sejarahwan, dan Cendekiawan
Selasa, 22 Feb 2005 17:16 WIB
Jakarta - Begitu lengkap, yang ada pada diri Kuntowijoyo. Dia bisa disebut pengarang, cendekiawan, budayawan, sejarahwan, sastrawan, dan bahkan kiai. Kini, tokoh itu telah tiada, kembali ke Sang Pencipta, meninggalkan karya-karyanya. Sebutan kiai, pantas diberikan kepadanya, karena dia adalah tokoh Muhammadiyah, yang telah menulis sekian banyak buku tentang Islam. Sebutan sebagai pengarang, jelas tidak bisa dibantah. Sudah puluhan buku yang ditulisnya. Sebagai sastrawan, karena dia suka dunia teater dan menulis novel. Sejarahwan, karena dia memang agli sejarah. Sebutan cendekiawan dan budayawan untuk Kunto, juga tidak ada yang berani mendebatnya. Syahdan, saat belajar di madrasah, Kunto kecil kagum kepada Ustad Mustajab, guru mengajinya. "Dia bisa menerangkan peristiwa tarikh (sejarah Islam) secara dramatik, menghanyutkan para murid seolah ikut mengalami peristiwa itu," tuturnya. Ditambah bimbingan Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo ketika kuliah di UGM Yogyakarta, Kuntowijoyo akhirnya menjadi ahli sejarah -- di samping pengarang. Anak kedua dari sembilan bersaudara ini dibesarkan di lingkungan Muhammadiyah. Dia juga dibesarkan di lingkungan seni. Ayahnya suka mendalang. Karena itulah, Kunto juga menekuni dunia kesenia, khusunya sastra dan teater. Semasa mahasiswa, ia pernah menjabat Sekretaris Lembaga Kebudayaan Islam (Leksi). Kemudian, sampai 1971, pria yang kini dosen Fakultas Sastra UGM itu menjadi Ketua Studi Grup Mantika. Di sinilah ia bergaul dengan para tokoh muda teater, seperti Arifin C. Noer, Syu'bah Asa, Ikranegara, Chaerul Umam, dan Salim Said. Tetapi, kesibukan luar kampus tidak membuat studinya telantar. Meraih gelar sarjana di UGM, 1969, Kuntowijoyo kemudian belajar ke Universitas Connecticut, AS, dan meraih M.A. pada 1974. Enam tahun kemudian, ia menggondol gelar doktor ilmu sejarah pada Universitas Columbia, AS, dengan disertasi Social Change in an Agrarian Society: Madura, 1850-1940.Sebagai pengarang, ia menghasilkan sejumlah naskah drama, cerita pendek, puisi, dan novel. Naskah dramanya antara lain Rumput- Rumput Danau Bento, 1968, Tidak Ada Waktu bagi Nyonya Fatma, Barda, Cartas, dan Topeng Kayu -- yang mendapat hadiah kedua Dewan Kesenian Jakarta, 1973. Cerita pendek Dilarang Mencintai Bunga-Bunga memenangkan hadiah pertama majalah Sastra, 1968. Novel Pasar meraih hadiah Panitia Hari Buku, 1972. Dua bukunya diterbitkan Pustaka Jaya pada 1976, yaitu Khotbah di Atas Bukit (novel), dan Isyarat (puisi). Setahun sebelumnya, buku puisi Kunto, Suluk Awang-Uwung, diterbitkan majalah Budaya Jaya. Ayah dua anak -- dari perkawinannya dengan Susilaningsih, juga seorang dosen -- ini bersosok sederhana dan bergaya kalem. Mereka menetap di sebuah rumah tipe 70 di Perumnas di Sleman, pinggiran Yogyakarta. Melakukan olah raga senam, jogging, atau jalan kaki, Kunto senang menonton acara pertandingan tinju di televisi. Ia juga gemar menonton film koboi. "Dalam film koboi ada tokoh pahlawan, tokoh jahat, dan banyolan. Mirip wayang," ujar dia. Di lingkungan Muhammadiyah, Kunto pernah menjadi anggota PP Muhammadiyah. Dia juga pernah menulis buku yang berjudul 'Intelektualisme Muhammadiyah: Menyongsong Era Baru' yang diterbitkan Mizan. Kunto juga menulis buku berjudul 'Identitas Politik Umat Islam' (Mizan). Sebagai pengarang, masih banyak buku yang ditulisnya. Misalnya, Impian Amerika (Bentang Budaya), Islam Sebagai Ilmu : Epistemologi, Metodologi, dan Etika Teraju (Mizan Grup), Khotbah di Atas Bukit (Bentang Budaya), Muslim tanpa Masjid (Mizan Pustaka), Paradigma Islam (Mizan Pustaka), Pasar : Sebuah Novel Kuntowijoyo (Bentang Budaya), Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris : Madura 1850-1940 (Mata Bangsa), Radikalisasi Petani (Bentang Budaya), dan Selamat Tinggal Mitos Selamat Datang Realitas : Esai-esai Budaya dan Politik Kuntowijoyo (Mizan Pustaka). Di mata sahabatnya, M Dawan Raharjo, Kunto adalah sosok yang istimewa. "Kuntowijoyo adalah seorang sejarahwan yang istimewa, karena sebagai sejarahwan dia banyak meminjam teori-teori dari ilmu-ilmu sosial. Sebagai ilmuwan di bidang ini, dia adalah penganjur aplikasi ilmu-ilmu sosial dalam pengembangan umat Islam," kata Dawam suatu waktu. Arief Budiman juga kagum terhadap Kunto. "Kunto memang adalah salah satu dari segelintir cendekiawn Indonesia yang produktif, gagasannya biasanya mendalam, tidak hanya berupa kesan selintas saja," tutur Arief Budiman dalam "Sistem Sosial dan Sistem Budaya" (Kompas, 13 Februari 1991). Kini, di saat usianya 62 tahun, Kunto telah meninggalkan dunia yang fana ini. Tapi, karya-karyanya masih dapat dinikmati oleh para generasi penerus bangsa. Selamat jalan Kunto! Berikut biodata Kunto: Nama : Kuntowijoyo Lahir : Bantul, Yogyakarta, 18 September 1943Agama : IslamPendidikan :- SRN, Klaten (1956) - SMPN, Klaten (1959) - SMAN, Surakarta (1962) - Fakultas Sastra UGM, Yogyakarta (1969) - Universisity of Connecticut, AS (M.A., 1974) - Doktor Ilmu Sejarah dari Universitas Columbia, AS (1980) Karir :- Asisten Dosen Fakultas Sastra UGM (1965-1970) - Dosen Fakultas Sastra UGM (1970-sekarang) Kegiatan Lain :- Sekretaris Lembaga Seni & Kebudayaan Islam (1963-1969) - Ketua Studi Grup Mantika (1969-1971)Alamat Rumah :Jalan Ampelgading 429 Perumnas UGM Condongcatur, Sleman, YogyakartaAlamat Kantor :Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, Kampus Bulaksumur, Yogyakarta
(asy/)











































