Menanggapi hal itu, Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X menyatakan belum mengetahui persis pengukuhan tersebut. Pihaknya mengaku belum mengetahui dari kelompok mana dan siapa yang melakukan penandatanganan pengukuhan tersebut.
"Saya belum bisa menanggapi, dari mana, siapa, saya gak tahu. Yang dikukuhkan siapa, saya gak tau," kata Sri Sultan Hamengku Buwono X di kompleks Kepatihan Yogyakarta, Senin (13/7/2015).
Terkait kelompok yang mengatasnamakan Trah Ki Ageng Giring-Ki Ageng Pemanahan, menurut Sultan hal itu hanya mengatasnamakan dan menyembunyikan identitas saja. Sultan juga mengatakan, apakah paguyuban itu bisa mengesahkan, atau mungkin mereka lebih tahu.
Dalam pengukuhan Sultan HB XI Minggu kemarin, Koordinator Trah Ki Ageng Giring - Ki Ageng Pemanahan, Satrio Djojonegoro, mengatakan kekuasaan Kasultanan Ngayogyakarta dianggap vacuum of power setelah adanya Sabda Raja tanggal 30 April 2015 lalu yang mengubah nama Sri Sultan Hamengku Buwono menjadi Hamengku Bawono. Perubahan ini dinilai tidak sesuai dengan angger-angger, budaya, dan paugeran serta adat istiadat yang berlaku di Kesultanan Yogyakarta. (try/try)











































