Usaha Bangkrut, Gunawan Temukan Ketenangan dalam Islam

Ramadan 2015

Usaha Bangkrut, Gunawan Temukan Ketenangan dalam Islam

Salmah Muslimah - detikNews
Senin, 13 Jul 2015 12:42 WIB
Usaha Bangkrut, Gunawan Temukan Ketenangan dalam Islam
Gunawan (Foto: Salmah Muslimah/detikcom)
Jakarta - Gunawan (42) pernah mengalami masa silam saat usaha yang dibesarkannya bangkrut. Dia yang dulu bos konveksi itu harus menerima kenyataan bahwa usahanya harus gulung tikar.

"Awalnya saya orang punya (kaya), saya pengusaha konveksi grosir drop ke Tanah Abang, ke Jatinegara dan lain-lain, bisa ratusan juta setiap bulan, terus saya bangkrut," cerita Gunawan saat ditemui detikcom di Masjid Lautze, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Rabu (8/7/2015) lalu.

Dalam kondisi terjatuh, gusar dan bingung itu, Gunawan mencari sesuatu yang bisa membuat dirinya tenang. Dia lalu datang ke Masjid Lautze dan belajar tentang Islam di sana. Masjid Lautze dipilih karena cerita dari teman-temannya soal banyak mualaf Tioghoa di sana

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Begitu saya jatuh, saya cari ketenangan dan ketemu di Islam. Saya imani, saya nyaman, saya tenang," ujarnya.

Tak butuh waktu lama bagi Gunawan untuk memeluk Islam. Dia bertafakkur (meningkatkan tauhid, keyakinan dan kepercayaan kepada Allah berdasarkan akal pikiran dan perasaan atau hati) selama kurang lebih 3 mingg, lalu hatinya mantap untuk memeluk Islam.

"Saya tertarik itu taffakurnya karena mengajari cerita kehidupan kita, bagaimana akhirnya semua itu masuk logika saya. Saya mengucap syahadat di masjid ini 7 bulan lalu, 13 September 2014," kata pria yang menetap di Sunter ini.

Kini Gunawan lebih pasrah dan sabar dalam menghadapi hidup. Bos konveksi yang disandangnya dulu berganti menjadi pekerja lepas, dia bekerja apa saja untuk bisa menyambung hidup.

"Saya nggak punya apa-apa ya santai saja, yang penting ikhtiar. Ada saja jalan dan rezeki," ucap Gunawan.

Keislaman Gunawan disambut hangat teman-temannya sesama muslim. Dia juga tidak mendapat tentangan dari keluarga, karena memang di lingkungan keluarganya membebaskan untuk memeluk keyakinan masing-masing selama itu membawa kebaikan.

"Keluarga besar saya juga ada yang Islam dan semuanya hidup rukun," ujarnya.

(slm/nwk)


Berita Terkait