Dalam perbincangan dengan wartawan, Senin (13/7/2015), Aisya menuturkan fenomena politik dinasti yang kini telah mendapatkan angin segar lewat putusan MK menimbulkan reaksi keras dari masyarakat.
"Melanggengkan dinasti kekuasaan akan seperti raja raja kecil di daerah, dan ini tak sejalan dengan konsep pemilu yang demokratis yang tidak memberikan kesempatan bagi rakyat kecil untuk bisa ambil bagian dari dinasti kekuasaan," kata Aisyah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anak alm tokoh masyarakat Kediri H. Syafii Thoyib ini akan maju di bursa pencalonan bupati Kediri dari Partai Golkar dengan rencana menggandeng Gerindra, PAN, dan PD. Aisya mengusung semangat perubahan untuk masyarakat Kediri.
"Kita harus berani dan keluar dari zona kejenuhan untuk membuat perubahan yang konstruktif bagi Kediri, dengan memaksimalkan kabupaten Kediri berdaya saing, memaksimalkan pariwisata lokal, memberikan lapangan kerja yang layak dan Kediri harus menjadi kabupaten yang peduli dengan gerakan amal, terutama program yang kaya peduli yang miskin," kata Aisya memaparkan visinya.
"Saya kira harus dikembangkan pola strategis untuk merubah kondisi sosial masyarakat yang kurang menjadi cukup bahkan lebih, yang lemah menjadi kuat, tak berdaya menjadi berdaya dan yang kelebihan materi membantu yang kekurangan, sehingga mengurangi jurang pemisah antara si kaya dan si miskin, sehingga akan terwujud keadilan, kesejahteraan, kemandirian dan kedamaian di kabupaten Kediri dan tentu hal seperti ini adalah refleksi keagamaan kita sebagai bangsa yang relegius urainya," lanjutnya.
Gerakan perubahan mulai didengungkan oleh masyarakat, terutama momentum Pilkada sudah di ambang pintu. Tanggal 21 – 24 Juli mendatang, pendaftaran calon Bupati dan Wakil Bupati Kediri dibuka.
"Tentu dinamika politik akan bergerak sangat panas, terutama akan munculnya lawan tanding yang cukup tangguh," kata Aisya.
Ketiga srikandi yang akan maju di Pilkada Kediri antara lain Bupati incumbent yang juga istri pertama mantan Bupati Kediri Sutrisno, dr Hariyanti yang maju bersama PDIP, dan kedua adalah Sayekti istri ke 3 Sutrisno diusung partai nasdem. Ketiga adalah Aisya Ulfa Syafii perempuan biasa yang akan maju dengan dukungan dari masyarkat.
3 Srikandi yang akan bertarung di Kabupaten Kediri tentu akan menarik, akankah ini akan berlangsung dengan menampilkan jago jago perempuan atau akan muncul lawan tanding lain yang akan melawan kekuatan incumbent yang cukup tangguh.
"Perempuan harus di lawan perempuan begitu ucap salah seorang pengurus parpol di daerah. Kalau dilawan laki laki kurang menarik," selorohnya.
Cerita Patahana di Kediri memang sepintas mirip dunia kerajaan, dimana sang Raja yang tak bisa maju, digantikan permaisuri kemudian para selir dan rakyat biasa. Penasaran dengan kelanjutan ceritanya? Ikuti terus beritanya di detikcom.
(van/try)










































