Bentrok Brimob dan Penerbad di Semarang Semoga Tak Terjadi Lagi

Bentrok Brimob dan Penerbad di Semarang Semoga Tak Terjadi Lagi

Rivki - detikNews
Senin, 13 Jul 2015 08:07 WIB
Bentrok Brimob dan Penerbad di Semarang Semoga Tak Terjadi Lagi
Foto: Andhika Akbarayansyah
Jakarta - Bentrok antara anggota Brimob Polda Jateng dengan anggota Penerbang TNI AD (Penerbad) terjadi di Semarang. Peristiwa ini disesalkan. Semoga TNI dan Polri solid, dan tidak terpecah-pecah.

โ€œInsiden ini cukup kita sayangkan, karena terus saja berulang. Konflik internal ini adalah permasalahan yang menjadi PR besar bagi Pak Gatot Nurmantyo selaku panglima TNI terpilih,โ€ kata anggota Komisi I DPR Sukamta, Senin (13/7/2015).

Bentrok terjadi pada Minggu (12/7). Sejumlah warga yang rumahnya berada di dekat Mako Brimob sempat ketakutan. Hingga kemudian masing-masing komandan berhasil meredam konflik ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Politisi dari Fraksi PKS ini menambahkan bahwa tantangan Indonesia ke depan cukup berat. Adanya potensi perang asimetris, belum lagi perang Proxy, semuanya berpotensi mengancam keutuhan NKRI.

"Untuk menghadapi tantangan-tantangan berat itu, TNI khususnya harus kuat. Doktrin TNI Tri Darma Eka Karsa memiliki semangat persatuan antarmatra yang ada, AD, AL dan AU. Ketiganya bersatu dalam membela dan mempertahankan keutuhan NKRI. Tapi bagaimana bisa mengemban amanah itu kalau di internal TNI sendiri belum bersatu?" urai Sukamta.

Wakil Rakyat dari Dapil Daerah Istimewa Yogyakarta ini mendukung agarGatot segera menyelesaikan PR permasalahan internal TNI ini. Panglima TNI harus langsung turun tangan menengahi konflik Brimob dan satuan Penerbad di Semarang ini. Jangan sampai perang Proxy yang selama ini diwaspadai justru malah TNI yang jadi targetnya.

"Karenanya, perkuat internalisasi Doktrin TNI agar tahan dari infiltrasi musuh yang bisa memicu serangan Proxy. Perkuat juga sistem penegakan kedisiplinan yang ada di satuan. Mestinya perwira atasan 2 level di atasnya bertanggungjawab dan memperbaiki sistem pembinaannya," ujar Sukamta. (rvk/dra)


Berita Terkait