Tol tersebut menyambung dari exit tol Pejagan langsung ke Brebes Timur sejauh 20 km. Namanya tol darurat, kondisinya pun seadanya karena masih dalam masa pembangunan.
Kondisi jalur tersebut yaitu sudah diberi agregat sehingga cukup mulus dilewati meski banyak kerikil. Debu dan pasir, menjadi faktor paling mengganggu jika melewati tol darurat itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski berdebu, ternyata tol darurat itu sangat berpengaruh dan bisa memotong waktu perjalanan. Saat melintas di kawasan Desa Rancawuluh RT 01/RW06, Kecamatan Bulakamba, pengguna jalan harus menghindari rumah milik pasangan Rojiun dan Darsiti yang uang ganti ruginya belum selesai. Rumah tersebut berada di tengah proyek tol Pejagan-Pemalang.
Selain itu ada juga tanah persawahan yang lahannya belum bebas sehingga pengguna jalan harus lagi-lagi mengindar.
Sepanjang tol darurat 20 km tersebut, ada 1 pos pengamanan polres Brebes dan tiga tenda polisi. Melintas di tol darurat ternyata cukup efisien karena kurang dari 30 menit sudah sampai di Pantura Brebes Timur yang berdekatan dengan perbatasan Tegal.
Menurut Dir Lantas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Benyamin, jika malam hari, debu dan pasir yang berterbangan akan berkurang dan lampu mobil bisa menembus debu sehingga jarak pandang lebih jauh.
"Malam lebih kondusif, angin berkurang, lampu mobil bisa menembus debu, malah bagus. Di exit tol Brebes itu kami masih coba berbagai pola," kata Benyamin, Sabtu (11/7/2015). (alg/Hbb)











































