Dari Rp 1,4 miliar uang yang dirampok, Erik menyalurkan sebagian uangnya untuk menyumbang ke musala.
"Menurut pengakuannya sebagian uangnya Rp 30 juta disumbangkan ke sebuah musala di Indramayu, Jawa Barat," kata Kasubdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Didik Sugiarto kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (10/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang berhasil kami sita hanya ada Rp 1,1 miliar. Menurut pihak bank, seharusnya uangnya Rp 1,4 miliar. Ini sedang kami selidiki sisanya dipakai apa aja selain untuk beramal tadi," ungkapnya.
Saat ditanya ke musala mana tersangka menyumbangkan uang tersebut, Didik mengatakan, "Tersangka tidak mau menjawab, katanya takut mengurangi pahala," ujarnya.
Mei Amelia (detikcom) |
Kanit IV Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya Kompol Teuku Arsya Khadafi menjelaskan rangkaian peristiwa perampokan itu. Arsya mengatakan, tersangka yang bekerja di PT Labora--perusahaan outsorcing yang bekerjasama dengan PT Armorindo--bertugas sebagai sopir PT Armorindo untuk mengisikan uang Bank BCA ke sejumlah ATM.
"Tersangka Erik dan Toyo ini bekerja di PT Labora baru 2 bulan. Sedangkan tersangka Udin bekerja di pool taksi untuk cuci mobil," ungkap Arsya.
Pada Minggu (5/7) lalu, Erik bersama 3 rekannya yakni 2 orang sekuriti Armorindo bernama Petrus Laoly dan Edhy Dhanarto serta Abdul Muis selaku staf PT Armorindo, bertugas mengisi uang ke ATM di Jl Otista, Jl Dewi Sartika, Jl Asem Baris dan di Alfamidi, Tebet, Jasel.
"Saat mau ke ATM di Alfamidi Tebet ini, tersangka Erik mengirim SMS ke 2 pelaku lainnya, yaitu Toyo dan Udin bahwa dia mau ke Alfamidi Tebet, jadi 2 temannya ini membuntuti pakai mobil Avanza dari belakang," jelasnya.
Setibanya di TKP, Erik meminta ketiga pegawai PT Armorindo untuk turun dari mobil dengan alasan mau cari parkiran. "Mungkin karena sekuirit ini juga masih baru, sehingga mereka menuruti perintah Erik. Padahal, aturannya, sekuriti tidak boleh turun sebelum uangnya turun," ungkapnya.
Saat itulah, tersangka Erik langsung membawa lari mobil PT Armorindo dengan dibuntuti mobil Toyota Avanza yang ditumpangi 2 pelaku lainnya.
Erik kemudian berhenti di dekat TPU Karet Bivak, Tanahabang, Jakarta Pusat. Di situ, uang Rp 1,4 miliar yang ada di 2 kotak cartridge dipindah ke mobil Avanza.
"Terus mereka kabur ke Indramayu. Di situ, kotak cartridge dibongkar menggunakan kampak," ungkapnya.
Di situ, mereka bersepakat untuk membagi rata uang hasil perampokan, masing-masing Rp 600 juta.
Namun tersangka Udin yang bertugas sebagai sopir Avanza baru diberi Rp 5 juta dan dijanjikan sisanya akan diberikan di titik temu di Karawaci, Tangerang.
Tersangka Udin kemudian pulang ke Duren Sawit, Jakarta Timur. Sementara tersangka Erik dan Toyo membawa 2 tas uang miliaran itu ke Cilegon, Banten. Keduanya awalnya hendak menyeberang ke Merak sebelum akhirnya tertangkap polisi.
Sementara itu, Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya Kombes Krishna Murti menyayangkan PT Armorindo yang tidak bekerjasama dengan pihak kepolisian dalam proses pengawalan uang ini.
"Pelajarannya, perusahaan Armorindo ini dalam mengelola distribusi uang ke ATM ini tidak melibatkan polisi, ini disayangkan. Mereka menggunakan outsorcing lagi ke PT Labora," tutur Krishna. (mei/fdn)












































Mei Amelia (detikcom)