Mayoritas Warga Ingin Aceh Menjadi Kota Pendidikan

Mayoritas Warga Ingin Aceh Menjadi Kota Pendidikan

- detikNews
Selasa, 22 Feb 2005 15:20 WIB
Jakarta - Sebagian besar warga Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) berharap bencana besar yang melanda provinsi itu menjadi momentum perubahan. Mayoritas warga menginginkan Aceh berkembang menjadi kota pendidikan. Demikian hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang disampaikan Direktur Eksekutif Denny JA dalam konpers di Hotel Sahid, Jl. Sudirman, Jakarta, Selasa (22/2/2005). Hasil survei menunjukkan, 70 persen warga menginginkan perubahan dibandingkan sebelumnya. Sedangkan warga yang puas dengan kondisi Aceh sebelum bencana hanya 6 persen. "Kemana perubahan itu harus menuju? Dari sisi bentuk kota, mayoritas publik Aceh menginginkan berkembang menjadi kota pendidikan," ujarnya. Namun, lanjut Denny, kota pendidikan yang dinginkan berbeda dengan Yogyakarta. Mereka tetap menginginkan Syarikat Islam menjadi karakter utama. "Dengan kata lain, penduduk Aceh mengidealkan Aceh dibangun menjadi kota pendidikan dengan kultur Islami," katanya. Ia menambahkan, dari sisi politik mayoritas masyarakat Aceh merasa bangga menjadi warga Indonesia. Lebih dari 70 persen warga bersedia berperang demi NKRI. "Ini adalah sentimen yang belum disentuh orang. Ini merupakan indikator buruk bagi GAM karena kemerdekaan yang diprovokasi tidak mengakar. Bencana tsunami semakin menjadi momentum yang mempererat warga Aceh dengan induk Indonesianya," jelasnya. Bagaimana persepsi terhadap peran pemerintah di Aceh? Di satu sisi, warga merasa puas dengan berbagai bidang yang ditangani pemerintah namun di sisi lain warga kecewa. Bahkan banyak kasus, penduduk Aceh lebih merasakan bantuan negara luar. "Ini tentu tak berarti pemerintah kurang bekerja. Sentimen negatif atas pemerintah di kalangan penduduk Aceh selama ini dapat juga menjadi salah satu sebabnya. Warga ingin dilibatkan dan diajak bicara dalam penanganan bencana dan pembangunan kembali Kota Aceh," paparnya. Survei dilakukan dengan wawancara tatap muka terhadap 700 responden di wilayah NAD dan Sumut yang tidak terkena gempa. Responden tersebar di 42 desa dan 28 kota. Setiap desa atau kota dipilih 10 responden. Metode survei yang berlangsung 25-29 Januari 2005 itu standard, multistage random sampling. Margin error +- 3,7 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. (rif/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads