Setyabudi |
Berdasarkan catatan detikcom, Jumat (10/7/2015), para hakim yang ditangkap KPK memberikan ekspresi berbeda-beda saat digelandang ke markas KPK di Kuningan, Jalan HR Rasuna Said. Ketua Pengadilan Tata Usaha negara (PTUN) Medan, Tripeni Irianto memilih memasang muka dingin kepada wartawan.
Ia tidak berusaha menutupi mukanya untuk menghindari publikasi seperti dengan tangan, koran atau baju. Bersama dua rekannya, Dermawan Ginting dan Amir Fauzi, Tripeni berjalan bergegas seusai turun dari mobil menuju gedung KPK. Mereka berjalan cepat menaiki tangga gedung KPK tanpa menunjukan ekspresi apa pun. Tak ada tangis, tak ada senyum, tak ada pernyataan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagaimana dengan Kartini Marpaung? Hakim ad hoc Pengadilan Tipikor Semarang ini terus menundukkan mukanya dalam-dalam. Ia berusaha menutupi mukanya dengan tangan menghindari jepretan para pewarta foto. Selayaknya teman-temannya, ia juga bungkam seribu bahasa.
Beda Tripena dkk, beda pula Akil Mochtar. Akil yang saat ditangkap menjabat sebagai hakim konstitusi yang juga Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini malah memukul wartawan. Saat digelandang ke rutan KPK pada 3 Oktober 2013, Akil dicegat puluhan wartawan dan juru foto.
Akil yang sudah mengenakan seragam tahanan KPK ini sempat membantah dirinya terlibat dalam perkara suap pengurusan sengketa Pilkada yang ditangani lembaganya. Namun, setelah mengatakan beberapa hal mengenai bentahannya tersebut ia langsung bergegas memasuki mobil tahanan yang akan membawanya ke rutan.
Tiba-tiba emosi Akil semakin meluap saat tiba di depan Rutan KPK. Ia yang masih dikawal petugas KPK itu bahkan langsung memukul wartawan yang menanyakan perihal wacana potong tangan yang pernah ia katakan sebelum tertangkap KPK.
Halaman 2 dari 2












































Setyabudi