Prestasi Raeni yang meraih IPK 3,96 di Unnes membuat Presiden ke-6 RI SBY, yang saat itu menjabat, meliriknya dan menjanjikan beasiswa. Setelah itu Raeni pun menjadi asisten dosen di Unnes dan mengikuti beragam pelatihan hingga cicipi pendidikan di Jepang.
"Saya ke Jepang sekitar bulan September 2014. Waktu itu ada program pertukaran selama 2 minggu di sana," kata Raeni saat berbagi cerita inspiratif bersama detikcom, Kamis (9/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu tentang sains dan teknologi sebetulnya. Di sana saya betul-betul melihat bagaimana Jepang sangat memanfaatkan pendidikan sains dan teknologi untuk pembangunan. Mahasiswa di sana tak khawatir ilmunya tak terpakai karena pasti akan dimanfaatkan oleh pemerintahnya," kata Raeni.
Tak hanya pemerintahnya saja, semua perusahaan yang ada di Jepang juga sangat antusias dengan penemuan dari para mahasiswa. Kampus benar-benar menjadi sebuah tempat riset di mana inovasi-inovasi pembangunan dikembangkan.
"Saya di sana ke Universitas Kumamoto, Kyushu. Saya kemudian memandangnya dari segi akuntansi dan pengembangan sains-teknologi di Jepang sangat menopang pembangunan. Hubungan antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat yang diwakili oleh kampus sangat sinergis," ungkap Raeni.
Sepulang dari Jepang semangat Raeni untuk pendidikan di Indonesia semakin membara. Dia terpacu untuk mengembangkan pendidikan di Indonesia lewat disiplin ilmu yang ditekuninya, akuntansi.
Kini dirinya berencana menyelesaikan studi S2 di Birmingham University, Inggris dalam tempo cepat. Sehingga dapat dengan cepat pula menularkannya ke anak bangsa Indonesia yang lainnya.
Berita menggugah dengan tema muda dan menginspirasi sengaja disajikan untuk membangkitkan semangat generasi muda untuk semakin kreatif dan inovatif dalam berbagai hal. Jika ada figur di sekeliling anda yang menginspirasi, anda bisa memberikan informasi kepada kami melalui email inspirasimu@detik.com. Ayo berkreasi untuk negeri, detik ini juga! (bag/tor)










































