Puncak Kemarau, 384 Dusun Terancam Krisis Air Bersih

Puncak Kemarau, 384 Dusun Terancam Krisis Air Bersih

Bagus Kurniawan - detikNews
Kamis, 09 Jul 2015 16:45 WIB
Puncak Kemarau, 384 Dusun Terancam Krisis Air Bersih
Ilustrasi. (Jhoni Hutapea/detikcom)
Yogyakarta - Memasuki puncak musim kemarau pertengahan tahun ini, sebanyak 384 dusun di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terancam mengalami krisis air bersih. Dari jumlah tersebut, Kabupaten Gunungkidul merupakan daerah yang paling banyak terjadi krisis ari bersih.

Data ini muncul dari hasil survei sepekan terakhir oleh Tim Reaksi Cepat (TRC), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY. Survei itu berlangsung di lima kabupaten dan kota.

"Kabupaten Gunungkidul merupakan daerah dengan ancaman kekeringan terbanyak," ungkap Komandan TRC BPBD DIY, Pristiawan Buntoro di kantor Jl Kenari, Yogyakarta, Kamis (9/7/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasar assesment TRC BPBD DIY, kata Pristiawan, terdapat 121 dusun yang tersebar di 43 desa di 14 kecamatan yang dipastikan akan mengalami krisis air bersih selama musim kemarau. Di Gunungkidul tiga kecamatan yakni Saptosari, Purwosari dan Tanjungsari sudah mengalami krisis air bersih sejak awal bulan Juni lalu.

Selain Gunungkidul, Kabupaten Kulonprogo juga termasuk wilayah yang rawan krisis air bersih. Sedangkan kabupaten lainnya adalah Sleman dan Bantul. Untuk Bantul di antaranya di wilayah Kecamatan Dlingo dan Imogiri.

"Untuk Sleman yang rawan krisis air bersih di Kecamatan Prambanan seperti di beberapa dusun di Desa Gayamharjo, Bokoharjo. Kemudian di lereng Merapi seperti di Kecamatan Cangkringan," kata Pristiawan didampingi Kepala BPBD DIY, Gatot Saptadi.

Untuk mengatasi masalah tersebut, tim TRC DIY terus melakukan assesment dan pendataan. Jumlah dusun yang terancam mengalami krisis air bersih ini dipastikan akan bertambah bila prediksi BMKG, bahwa Indonesia dan khususnya Jawa bagian selatan akan mengalami kemarau panjang tersebut terbukti benar.

"Saat ini kita juga mendirikan Posko Siaga Kekeringan untuk mendapatkan data valid mengenai wilayah yang terancam mengalami krisis air bersih. Posko ini juga bisa menjadi rujukan berbagai lembaga terkait dengan penanganan krisis air bersih selama musim kemarau 2015 ini," katanya. (bgs/rul)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads