Ridwan Kamil Bicara 'Penutupan Permanen' Saritem, Bagaimana Caranya?

Revolusi Kota

Ridwan Kamil Bicara 'Penutupan Permanen' Saritem, Bagaimana Caranya?

Avitia Nurmatari - detikNews
Kamis, 09 Jul 2015 14:59 WIB
Ridwan Kamil Bicara Penutupan Permanen Saritem, Bagaimana Caranya?
Ridwan Kamil berkunjung ke kawasan Saritem Mei 2015 lalu (Foto: Baban Gandapurnama/dok detikcom)
Bandung - Pundi-pundi rupiah yang dihasilkan di Saritem tak sedikit. Terbukti tak ada yang mau benar-benar pergi dari bisnis prostitusi itu. Kata Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, pemberdayaan ekonomi yang dibutuhkan oleh warga Saritem.

Berbicara Saritem bukan hanya PSK, mucikari dan penikmatnya. Ada warga asli di dalamnya yang juga menggantungkan kehidupan ekonominya pada bisnis esek-esek tersebut.

"Secara konsep, lokalisasi sudah tidak ada, yang ada itu, kegatan sporadis yang melawan kesepakatan. Sekarang kami akan tanda kutip melakukan persiapan penutupan permanen," ujar pria yang akrab disapa Emil itu kepada detikcom beberapa waktu lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seperti apa penutupan permanen tersebut?

"Selama ini kan ada terus karena warga di sana juga hidup dari aktivitas Saritem. Artinya, warga di sana yang berprofesi sebagai germo harus diberdayakan secara ekonomi," terang Emil.

Dengan pemberdyaaan ekonomi, Emil meyakini tidak akan ada lagi kegiatan prostitusi di kawasan tersebut.

"Kita kan sedang mendata, melalui RW. Mereka akan dibantu, didukung untuk mencari usaha baru dengan pemberian kredit melati. Sehingga tidak ada alasan lagi membuka prostitusi dengan alasan ekonomi," kata Emil.

Lagipula, lajut Emil, dari hasil pendataan, hampir 90 persen PSK bukan berasal dari Kota Bandung.

"Artinya, tidak ada hubungan PSK itu warga di sana. Yang warga di sana itu hanya germo-germonya. Maka, germonya akan dirangkul, diberdayakan, sehingga diharapkan tidak ada lagi kegiatan seperti itu," terang Emil.

Emil berkesimpulan kawasan Saritem saat ini hanya dimanfaatkan oleh orang-orang yang berkepentingan untuk mencari uang dari bisnis esek-esek. Buktinya sebagian besar rumah-rumah di saritem dimiliki oleh pengusaha.

"Kesimpulannya Saritem ini dimanfaatkan oleh mereka-mereka yang berduit. Sehingga dengan begitu isu sosialnya tidak terlalu besar. Kalau rumah-rumahnya milik warga sana, PSK-nya warga sana, itu baru," ujar Emil.

Saritem ditutup pada era kepemimpinan Dada Rosada, tepatnya pada tahun 2007. Rumah bordil disegel. Ponpes dibangun. Meski demikian, praktik prostitusi tetap berlanjut. Itu terbukti setelah petugas gabungan menggelar razia di kawasan yang terletak di Kecamatan Andir itu. (avi/try)


Berita Terkait