"Awal Agustus kita tertibin. Nggak ada lagi PKL yang berjualan menetap di sini," ujar Ratna di TPU Karet Bivak, Jl Penjernihan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (9/7/2015).
Pengelola TPU, Kosasih mengaku sudah sering mengingatkan para PKL agar tidak membuat lapak di kawasan TPU. Ia juga mengingatkan mereka agar menjaga kebersihan di sekitar lokasi berjualan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini pihaknya masih memberikan kelonggaran terhadap para PKL. Namun jika hingga awal Agustus lapak-lapak mereka masih berdiri, ia tak segan-segan untuk merobohkannya.
Sebab PKL ini menjadi salah satu penyebab kekumuhan di kawasan TPU Karet Bivak. Mereka tidak mengelola sampah dengan baik sehingga berserakan bahkan sebagian tampak beterbangan di langit.
Selain itu, petugas pengelola TPU juga terbatas, yaitu hanya 17 orang PHL resmi. Padahal luas area TPU Karet Bivak 16,1 hektar. Namun Selain 17 orang tersebut, ada hampir seratusan orang yang bekerja membersihkan makam. Mereka tidak dibayar oleh Pemprov DKI Jakarta, melainkan mencari penghasilan sendiri.
"Mereka dibayar langsung oleh keluarga pemilik makam," kata Kosasih.
Melihat hal itu, Ratna akan mengevaluasi dan tak menutup kemungkinan akan menambah jumlah PHL resmi. "17 orang ini keteteran saya lihat. Tapi saya pelajari dulu, saya mau lihat data sesungguhnya. Kalau memang perlu ya kita tambahin," ujar Kasudin yang baru dilantik beberapa hari lalu ini. (kff/elz)











































