Area TPU Karet Bivak memang dipenuhi sampah baik dedaunan maupun sampah bekas makanan. Bahkan sebagian sampah-sampah plastik tersebut beterbangan saat tertiup angin.
Ratna yang ditemani beberapa orang stafnya langsung menegur petugas perawat makam atas kondisi TPU yang banyak sampah itu. Ia turut memunguti sampah-sampah plastik yang berserakan di kawasan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain sampah, kawasan TPU ini juga dipenuhi PKL. Mereka membiarkan sampah berserakan di sekeliling lapak. Padahal seharusnya para PKL ini tidak diperbolehkan berjualan secara permanen di dalam kawasan TPU. Hal ini membuat Ratna semakin geram. Ia pun menegur para PKL itu.
"Ibu sudah dibolehin masuk, harusnya jaga kebersihan dong. Nggak boleh ada ember cuci piring di sini. Bersihin semua," tegurnya.
Pemilik lapak, Entin (43) tak dapat mengelak. Ia kemudian menyapu lapaknya. Selain berjualan makanan dan minuman ringan, Entin juga mengaku turut membersihkan makam. Ia melanjutkan pekerjaan suami sebagai petugas perawat makam, sebab kini sang suami sudah meninggal.
"Saya punya anak 2, kalau ngandelin dari upah bersihin makam, nggak cukup," ujarnya. (khf/elz)











































