Antara Satpol PP dan PSK seolah bermain kucing-kucingan. Razia pun kerap bocor, sehingga kadang aparat Satpol PP nihil hasil.
Kepala Satpol PP Kota Bandung Eddy Marwoto memang baru beberapa bulan menjabat sebagai pimpinan tertinggi pada instansi penegak perda itu. Namun sebelumnya, Eddy adalah Camat di kawasan Andir tempat Saritem berada. Eddy mengaku lebih paham soal penanganan di Saritem.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Eddy, hampir setiap hari aparat Satpol PP melakukan pemantauan di kawasan tersebut. Namun untuk razia besar-besaran tidak bisa dilakukan begitu saja tanpa koordinasi dengan instansi lain.
"Kalau pengamanan, pemantauan sudah sering dilakukan. Kalau razia kita juga harus menyelidiki dulu, apa memang benar. Karena di sana juga kan menyatu dengan warga asli, tidak bisa sembarangan," ucapnya.
Saat Wali Kota Bandung Ridwan Kamil memimpin Bandung 2013 lalu, ia meminta Satpol PP untuk membuat posko khusus di kawasan tersebut. Namun belum terealisasi. Sehingga Satpol PP bergerak merazia jika memang diperlukan.
"Kalau posko kan belum ada tempatnya. Personel kita juga terbatas. Jadi kita saat ini melibatkan aparat kewilyahan saja dulu. Tapi yang pasti di Saritem itu sudah ditutup," kata Eddy.
Akhir Desember tahun lalu, Satpol PP bersama Wali Kota melakukan razia besar-besaran di kawasan Saritem. Namun info razia itu bocor, mereka tak mendapati PSK dan penikmatnya, hanya berhasil menyegel rumah-rumah yang dijadikan hotel.
Tahun ini yang merazia dan berhasil adalah kepolisian. Ada dan mucikari yang ditangkap. Satpol PP mengapresiasi polisi.
"Kami mengapresiasi. Tapi bukan berarti kami tidak bekerja. Kami juga membantu berkoordinasi," tandasnya.
Berdasarkan data terakhir sebelum penutupan, Saritem terdiri dari 73 bordil. Tiap bordil memiliki kamar beragam tipe. Ada yang sederhana, ada yang mewah. PSK berjumlah sekitar 144 orang.
(avi/try)











































