Saritem yang konon berdiri sejak 1900-an ini berada di Kelurahan Kebon Jeruk, Kecamatan Andir. Di masa jaya, ada 73 rumah bordil di tempat itu. Data terakhir di Pemkot Bandung pada 2007, jumlah pekerja seks komersial (PSK) berkisar 144 orang.
Sebagai salah satu penanda penutupan lokalisasi, Satpol PP menyegel rumah bordil di Saritem. Mereka berjanji mengawasi keberadaan kawasan tersebut. Tanda lain terkait penutupan adalah pembangunan pesantren. Papan bertuliskan 'Selamat Datang di Kawasan Pesantren Dar Al-Taubah A- Islam', kini berdiri megah di gerbang menuju kawasan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Jumat (13/6/2014) lalu misalnya. Petugas gabungan terdiri Polri, TNI, Satpol PP, dan Dinas Sosial Kota Bandung, menemukan rumah bordil yang beroperasi. Tiap bordil memiliki tipe kamar berbeda. Mulai yang berkonsep sederhana hingga kamar bergaya mewah bak hotel bintang lima. Mayoritas bangunan berlanta 3. Ada juga yang berlantai empat.
Petugas menyita ratusan krat atau sekitar 4.000 botol miras yang dijual bebas di beberapa rumah bordil. Sebanyak 7 pria hidung belang dan 21 PSK diangkut.
Penutupan Saritem memang bertahap. Pada awal-awal hanya seremoni, kemudian tahapan berikutnya terus berjalan. Dua tahun setelah penutupan, sebanyak 23 rumah dibebaskan.
Di era kepemimpinan Ridwan Kamil, Saritem bakal direvitalisasi. Realisasinya masih menunggu waktu. "Saya tidak bilang dalam setahun masalah bisa selesai. Satu persatu masih muncul ke permukaan. Kami akan terus selesaikan, termasuk Saritem," ujar Emil beberapa bulan usai menjabat pada pertengahan Juni 2014.
Beda Saritem, beda Dolly di Surabaya dan Kramat Tunggak di Jakarta. Dua lokalisasi legendaris yang disebut terakhir, sukses ditutup. Saat ini, eks Dolly tengah dalam proses menjadi kawasan ekonomi terpadu, sedangkan Kramat Tunggak diubah menjadi pusat kegiatan agama. Bagaimana dengan Saritem?
(ern/try)











































