Ujian sabar pertama adalah resistensi dari keluarga inti dan keluarga besarnya. Karina tak ditegur selama sekitar 6 bulan, padahal mereka hidup dalam 1 rumah.
"Untungnya, Alhamdulillah, nggak sejahat yang saya pikirkan. Kalaupun kecewa, tetapi akhirnya masih menerima saya, meskipun masih terus membujuk untuk kembali ke keyakinan lama," ucap Karina saat berbincang dengan detikcom pada Sabtu (4/7/2015) lalu.
Kerabat lain bahkan sempat mengira Karina mendapat bisikan setan dan terpengaruh aliran sesat. "Saya cuma bilang, kalau emang ini keinginan sesaat, dari dulu kan udah pernah ada, dari umur 9 tahun. Saya nggak main-main dengan pilihan saya. Dan itu bukan karena siapa-siapa, karena memang saya yang mau," tegasnya.
Meski telah menerima, keluarganya masih kerap mengajak Karina untuk mengunjungi tempat ibadah yang dulu kerap mereka datangi bersama. Untuk menghormati, ia pun mengalah sejenak.
"Ya saya ikut duduk di sana, diam aja. Yang penting niatnya nggak untuk balik lagi (ke keyakinan sebelumnya). Saya zikir aja dalam hati," ujarnya sambil terkekeh mengingat apa yang dialaminya dahulu.
Lama kelamaan orangtuanya semakin mengerti dan menghormati pilihan hidup putri bungsunya itu. Kini Karina semakin mantap dengan pilihannya dan masih terus belajar untuk memupuk imannya itu.
"Saya meyakinkan mereka bahwa dengan berpindah agama tidak akan membuat sikap saya berbeda. Saya akan tetap memperlakukan mereka seperti sebelumnya, tidak ada yang berubah," tegasnya.
Pengaruh keluarga tak membuatnya goyah. Hanya saja kala itu ia belum berani mengenakan hijab, untuk menghargai keluarganya tersebut. Ia berencana akan berhijab setelah menikah.
"Saya masih menghargai orangtua saya. Saya tahu pasti perasaannya pasti makin kecewa kalau melihat saya makin serius dengan agama yang beda dengan dia," kata Karina.
Menjelang akhir tahun 2014 lalu, ayahnya sakit selama 2 bulan. Ayah yang merupakan orangtua tunggalnya kala itu, kemudian meninggal pada Oktober 2014. Sementara ibunya telah meninggal sejak ia masih anak-anak. Di tengah kesedihan ditinggal ayah tercinta, Karina mendapat petunjuk.
"Saya kayak dapat hidayah kedua," kata perempuan yang tinggal di kawasan Cinere, Depok ini.
Kala itu ia tengah membaca artikel tentang Islam. Tak sengaja ia menemukan surah an-Nur dan al-Ahzab yang berisi tentang anjuran kepada seorang muslimah untuk berhijab. Setelah itu, pemilik nama lengkap Maria Alacoque Karina Anggara Ayu Kusuma ini memutuskan untuk berhijab.
"Saya, kayak ngerasa ditegur, kayak dikasih tahu. Ya udah Maret kemarin saya memutuskan berhijab," ujarnya.
Setelah kehilangan kedua orang tuanya, Karina berusaha untuk terus mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ia merasa kini banyak perbaikan yang terjadi dalam dirinya.Ia yang dahulu mudah marah dan tersulut emosi, kini mengaku lebih tenang.
"Semenjak saya mengenal Islam, seperti membuka mata saya, bahwa di dalam Islam itu ada ikhlas, ada sabar, dan pasti ada pengorbanan. Saya jauh lebih baik sekarang, batin saya semakin nyaman," ucapnya.
Halaman 2 dari 1











































