Bush & Chirac Desak Pasukan Suriah Tinggalkan Libanon
Selasa, 22 Feb 2005 12:02 WIB
Jakarta - Suriah terus mendapat tekanan. Presiden AS George W Bush bersama Presiden Prancis Jacques Chirac mendesak pasukan Suriah untuk mundur dari Libanon. Demikian statemen bersama kedua pemimpin, yang mengutuk pembunuhan mantan Perdana Menteri Lebanon Rafiq al-Hariri di Beirut, Libanon pada 14 Februari lalu."Kami mendukung investigasi PBB terhadap aksi teroris ini dan mendesak kerjasama penuh semua pihak guna mengindentifikasi mereka yang bertanggung jawab atas perbuatan ini," demikian statemen bersama yang dikeluarkan Gedung Putih, seperti diberitakan AFP, Selasa (22/2/2005)."Kami mendesak adanya implementasi penuh dan cepat dari UNSCR 1559 dalam semua aspeknya," demikian pernyataan tersebut mengenai resolusi Dewan Keamanan PBB yang diadopsi pada September lalu, yang menyerukan penarikan segera seluruh pasukan asing di Libanon.Masalah Suriah termasuk dalam bahasan utama perbincangan Bush dengan Chirac di Brussels, Belgia. Selain itu, isu penjualan senjata ke Cina juga dibahas. Seperti diketahui, Prancis merupakan salah satu negara Eropa yang ngotot agar embargo senjata ke Cina dihapuskan. Sementara Washington bersikeras menolak langkah tersebut.Hubungan Bush dan Chirac telah diwarnai sejumlah ketegangan, termasuk masalah invasi ke Irak. Pasalnya, Prancis menentang keras aksi militer pimpinan AS ke negeri bekas rezim Saddam Hussein itu. Ketegangan ini terlihat dalam pertemuan Bush dan Chirac di Brussels. Meski keduanya saling tersenyum, namun nampak jelas mereka tidak rileks.
(ita/)











































