Ramadan di Ho Chi Minh, Kangen Kolak dan Tantangan Jaga Pandangan

Ramadan 2015

Ramadan di Ho Chi Minh, Kangen Kolak dan Tantangan Jaga Pandangan

Peter Cahyadi - detikNews
Rabu, 08 Jul 2015 14:49 WIB
Ramadan di Ho Chi Minh, Kangen Kolak dan Tantangan Jaga Pandangan
Foto: Peter Cahyadi - pembaca detikcom
Ho Chi Minh - Saya ingin berbagi pengalaman berpuasa di Vietnam, tepatnya di Kota Ho Chi Minh. Untuk pertama kalinya saya merasakan bulan Ramadan di luar negeri karena saat ini saya bekerja di sini. Saya kerja di sini baru 6 bulan, pas banget bulan puasa di sini.

Satu bulan sebelum Ramadan, saya googling mencari masjid-masjid yang ada di Ho Chi Minh. Meskipun agama muslim di sini minoritas, tetapi jumlah masjid yang ada di Ho Chi Minh cukup lumayan, berjumlah 12 masjid. Salah satu yang saya kunjungi adalah Central Mosque Jamia Al Muslimin, di tengah kota, dekat dengan Ben Thanh Market. Jaraknya sekitar 20 menit jalan kaki dari tempat tinggal saya di Ho Chi Minh.

(Foto: Peter Cahyadi/pembaca detikcom)


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Arus lalu lintas di Ho Chi Minh seperti di Jakarta, banyak motor, helmnya nggak penuh, hanya setengah kepala. Jadi saya mengandalkan Google untuk mencari tempat-tempat seperti masjid ketimbang mencari tempatnya langsung.

Untuk azan, kebetulan waktu azan di Ho Chi Minh sama seperti daerah Sumatera atau Indonesia bagian barat. Hanya perbedaannya, Imsak lebih cepat. Di sini Imsak pukul 04.10, dan Subuhnya 10 menit kemudian. Magrib jatuh pada pukul 18.20. Untuk mendengarkan azan, saya mengandalkan azan dari aplikasi yang saya download dari internet.

(Foto: Peter Cahyadi/pembaca detikcom)


Saat berpuasa, Alhamdulillah, toleransi beragama di sini tinggi sekali. Di tempat kerja saya, ada 5-6 orang yang berpuasa, saat mengetahui ada yang berpuasa, mereka yang nggak berpuasa makan di luar.

Saya berbuka dengan sesama muslim dan orang Indonesia yang ada di sekitar saja. Susah cari kolak. Kalau makanan halal, biasanya saya dan teman-teman lebih suka memasak sendiri. Kami biasanya membeli sayur, telur, ayam halal di supermarket besar untuk dimasak dan dimakan kala sahur dan berbuka. Karena kalau makanan beli di luar, ya kebanyakan tidak halal.

Tantangan tersulitnya adalah menahan pandangan. Cuaca panas yang hampir sama seperti Jakarta bukan jadi kendala. Karena cuaca yang panas pula, kaum hawa di sini selalu memakai pakaian yang minim. Tapi itu tetap tidak menyurutkan niat puasa saya.

Saya akan berpuasa hingga berlebaran di sini. Salam buat keluarga di Jakarta, mohon maaf tidak bisa bergabung untuk Lebaran di sana.

*) Peter Cahyadi, warga Jakarta yang sudah 6 bulan bekerja di Ho Chi Minh, Vietnam.

Bagi Anda pembaca detikcom yang memiliki pengalaman berpuasa Ramadan di luar negeri seperti yang dituliskan di atas, bisa menuliskan dan mengirimkannya ke: redaksi@detik.com. Sertakan identitas lengkap, nomor kontak yang bisa dihubungi dan foto yang mendukung kisah Anda.
Halaman 2 dari 1
(nwk/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads