Kisah Perjuangan Ibu Elly yang Mendirikan Sekolah untuk Anak TKI di Saudi

Kisah Perjuangan Ibu Elly yang Mendirikan Sekolah untuk Anak TKI di Saudi

Erna Mardiana, - detikNews
Rabu, 08 Jul 2015 11:38 WIB
Kisah Perjuangan Ibu Elly yang Mendirikan Sekolah untuk Anak TKI di Saudi
Foto: Erna Mardiana/detikcom
Jeddah - Bagi Dr Elly Warti Maliki, selama 23 tahun ini ia sudah merasakan sakitnya setengah sakaratul maut. Berjuang mendirikan sekolah bagi anak-anak TKI di Arab Saudi, tak mudah baginya.

Tekanan dari berbagai sisi ia rasakan, namun ia pantang mundur. Sehingga kini hanya tinggal sejengkal lagi Sekolah Islam Terpadu Indonesia Jeddah (SIT Indah) yang ia dirikan resmi berizin.

"Kalau ada yang mengatakan sakaratul maut itu sakitnya luar biasa, ibu rasanya sudah mengalami setengahnya. Semoga nanti (saat meninggal), ibu hanya mengalami setengahnya lagi," ujar Elly yang merupakan kepala sekolah SIT Indah saat berbincang dengan detikcom, Senin (6/7).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Agustus 1992, ia datang ke Arab Saudi mengikuti suaminya yang bekerja di perusahaan water treatment. Ada perasaan yang menggelitiknya saat ia melihat banyak anak-anak TKI di Jeddah yang memasuki usia sekolah. Tiba-tiba ia ingin mendirikan sekolah.

"Kasihan anak-anak TKI ini, mereka tidak bisa sekolah di sekolah internasional karena mahal. Belajar di sekolah pemerintah di sini, sudah penuh," ujarnya. Di Jeddah, ada satu sekolah milik pemerintah, yaitu Sekolah Indonesia Jeddah.

Awalnya Elly merintis TPA, tiga kali seminggu di rumahnya. Sore hari belajarnya. Aksinya terbilang nekat. Kala itu, pengamanan di Saudi ketat. Tidak boleh ada kumpul-kumpul. Elly mengaku beberapa kali diperingatkan temannya.

"Saya kan orang baru, tidak tahu apa-apa. Mereka bilang jangan bu Elly, nanti digerebek. Ditangkap polisi. Tapi saya pikir, masa ngajarin anak mengaji enggak boleh? Saya nekat saja. Saya izin ke Konsul RI Jeddah, mereka mengizinkan. Alhamdulillah tidak diapa-apain oleh polisi di sini," kisahnya.

Jumlah siswanya semakin banyak, akhirnya Elly menyewa sebuah bangunan. Selama 15 tahun, TPA bernama Darul Ulum terus bertahan. Para guru TPA merupakan istri-istri TKI. Ada atau tanpa Elly, sekolah bisa berjalan.

Elly sempat pulang ke tanah air untuk mengajar di UIN Jakarta. Doktor lulusan Universitas Al Azhar itu mengajar selama satu tahun. "Saya berpikir di UIN saya enggak bisa berkiprah apa-apa, cuma mengajar saja. Sementara anak-anak TKI butuh saya," ujarnya.

Akhirnya Elly kembali ke Jeddah. Ia lalu nekat membuka sekolah di pagi hari. Pada 2007, ia menghadap Pelaksana Fungsi Penerangan sosial budaya Darmakirty Syailendra Putra, yang saat ini menjabat sebagai Konjen, untuk minta restu.

"Beliau mengizinkan. Asalkan memang ada minat dari masyarakat Indonesia. Disarankan ada mata pelajaran dengan pengantar bahasa Inggris," ujarnya.

Elly pun akhirnya nekat membuka TK dan SD dengan pengantar bahasa Inggris untuk dua mata pelajaran yaitu Sains dan pelajaran sosial.

Musibah dialaminya. Tahun 2012, suaminya meninggal dunia. Sesuai aturan di Arab Saudi, istri yang suaminya meninggal harus pulang ke tanah air. "Saya punya anak laki-laki di sini, akhirnya saya ikut kafilan (disponsori) oleh anak saya," katanya.

Hingga pada 2013, ada kabar razia besar-besaran. TKI yang diketahui tidak resmi akan dipulangkan. Saat itu di Saudi, suasana benar-benar mencekam. Banyak TKI yang tidak punya izin resmi, bersembunyi.

"Isunya razia juga akan dilakukan ke RS dan sekolah-sekolah. Bayangkan bagaimana perasaan ibu. Sekolah ibu belum ada izin resmi, otomatis para guru di sini juga tidak resmi. Kami semua saat itu benar-benar ketakutan," beber perempuan berusia 56 tahun ini.

Saat itu memasuki ujian akhir semester, sehingga sekolah tidak mungkin diliburkan. Kegiatan belajar mengajar tetap berlanjut. Namun gerbang sekolah ditutup rapat. Kuncinya ia pegang. Ia memerintahkan seseorang berjaga di luar, memantau apabila ada polisi yang datang.

"Lagipula sekolah ini juga sedang mencari eksistensi. Banyak orang meragukan. Kalau sekolah ini tutup, mereka pasti bilang tuh kan sekolah ilegal pasti ditutup," cetusnya.

Berhari-hari seperti itu. Akhirnya ia mendapat kabar dari kepala sekolah sebuah sekolah milik pemerintah Arab Saudi, apabila polisi tidak akan merazia sekolah dan rumah sakit.

"Subhanallah, rasanya lega sekali saat mendengar kabar itu. Alhamdulillah Allah masih menjaga kami semua," tuturnya.

Setelah kejadian itu, Elly pun akhirnya memutuskan sekolahnya harus berizin. Namun ternyata ujian lain akan dialaminya lagi. Beberapa kali datang ke kementrian pendidikan di Jeddah untuk mencari informasi mengenai syarat mendirikan sekolah, gagal terus.

"Di sini yang biasa mengurus-ngurus laki-laki. Tidak ada perempuan. Semua orang meragukan saya dan berpikir saya bohong, ah mana mungkin Bu Elly perempuan bisa melakukannya," kisahnya.

Hal itu tidak membuatnya berkecil hati, namun makin bertekad. Setelah beberapa kali gagal, akhirnya ia bisa mendapat informasi dari kementrian pendidikan. Masalah baru timbul lagi. Disebutkan untuk mengajukan pendirian sekolah baru harus ada tiga orang yang mengajukannya, dan semua harus mempunyai gelar pendidikan.

"Saya bingung di mana mencarinya. Sementara orangtua murid, rata-rata pendidikannya rendah. Mereka hanya sopir atau pembantu rumah tangga," katanya.

Akhirnya ia dipertemukan dengan Ibu Hani, dulu pengelola lab school di Jakarta dan Abdul Aziz. Persyaratan tidak hanya cukup itu. Ia harus bisa memberikan jaminan 100 ribu riyal dan bank statement 200 ribu riyal.

"Untuk jaminan saya akhirnya pinjam pada orangtua murid. Masing-masing 500 riyal. Nanti uang itu dikembalikan saat anak-anaknya lulus. Akhirnya saya mendaftar dengan pinjaman uang dari ortu murid," terangnya.

Juli 2014, mendapat kabar bahwa sekolahnya mendapat persetujuan untuk mendapatkan izin. Untuk mendapatkan izin, gedung sekolah harus representatif dengan dilengkapi tangga darurat, mesin pemadam kebakaran dan alat kelengkapan keamanan lainnya.

"Saya mencari gedung baru, karena gedung lama itu tidak representatif. Sudah banyak ditambal triplek. Saya dapat gedung yang sekarang ini dengan harga sewa 300 ribu riyal. Sementara kita hanya mampu 120 ribu riyal," tuturnya.

Untuk biaya sewa gedung, Elly mendapat pinjaman dari salah seorang pengusaha asal Indonesia. Namun gedung tak bisa langsung dipakai, harus direnovasi dulu. Biayanya sebesar 150 ribu riyal.

"Alhamdulillah saya mendapat bantuan dari seorang warga Arab Saudi Doktor Muhammad Umar Jamjum, Mantan dekan fakultas Teknik Universitas King Abdul Aziz dan CSR BJB," ujarnya.

Secara lisan ia sudah mendapatkan kabar pertengahan Juni lalu, kalau sekolahnya mendapat izin. Untuk hitam di atas putihnya, pihak kementerian pendidikan akan meninjau. "Kami sedang menunggu peninjauan," katanya.

Belajar dari perjuangannya, Elly menyatakan kita akan berhasil meraih apapun asalkan kita gigih. "Untuk memperjuangkan ini memang tidak mudah, tapi bukan mustahil," ujar ibu tiga anak ini.

Saat ini ada sekitar 200 lebih anak yang dididik di SIT Indah. Rata-rata mereka anak pembantu rumah tangga dan sopir. Mayoritas berasal dari Jabar. (dra/dra)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads