Cahaya, Cinta dan Canda Quraish Shihab

Quraish Shihab, Sahabat yang Penuh Canda dan Fans Real Madrid

Rachmadin Ismail - detikNews
Rabu, 08 Jul 2015 10:16 WIB
Jakarta - Di bab pembuka buku biografi Quraish Shihab: Cahaya, Cinta dan Canda, banyak testimoni menarik dari para tokoh nasional dan keluarga. Mereka bercerita soal sosok Quraish sebagai 'manusia', yang kadang penuh canda bahkan sampai jadi penggemar berat klub sepakbola.

Komentar dibuka oleh mantan Presiden BJ Habibie. Ternyata, Quraish dan Habibie sudah lama berteman, bahkan Habibie menyebutnya sebagai adik. Meski sudah akrab, banyak hal baru tentang Quraish yang diketahui sang teknokrat.

Lalu, testimoni juga datang dari tokoh Nahdatul Ulama KH Mustafa Bisri. Gus Mus, demikian sapaan akrabnya, mengungkapkan sisi lain sosok Quraish yang kerap disebut Om Quraish. Banyak canda yang kerap dilontarkan Quraish,  bahkan tak jarang sang ahli tafsir juga bergoyang saat mendengar musik.

"Siapa pun Anda, bila Anda manusia normal, Anda pasti senang dan asyik berada bersama manusia yang menyenangkan ini. Dan bukan itu saja. Anda akan mendapat pencerahan dan luberan ilmunya. Insya Allah," tulis Gus Mus.

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Buya Syafii Maarif, tokoh Katolik Franz Magnis Suseno, Mendikbud Anies Baswedan, pengusaha Sandiaga Uno, sampai Ebiet G Ade pun menyampaikan hal senada. Mereka kompak menyebut Quraish sebagai sosok intelektual tinggi, namun memiliki kepribadian sederhana.

Namun, salah satu testimoni yang menarik datang dari Wapres Jusuf Kalla (JK). Dengan tutur yang santai, JK bercerita tentang persahabatannya dengan Quraish. Bukan hanya itu saja, keluarga mereka sudah berteman, bahkan sampai empat generasi.

Cerita JK tentang Quraish dimulai dari penanganan masalah gempa dan tsunami di Aceh. Kala itu, JK harus membuat keputusan, bahkan fatwa yang berhubungan dengan nasib jenazah-jenazah para korban. Quraish akhirnya yang menjadi penenang hatinya.

Quraish juga kerap menjadi rujukan keluarga JK dalam urusan usaha dan hal lainnya. Pernah suatu waktu, JK berencana membangun hotel, namun akhirnya batal setelah mendapat pencerahan dari sang pakar tafsir.

"Dalam surat-nya, Pak Quraish menyatakan boleh saja membangun hotel, karena di Mekkah dan Kairo juga banyak hotel. Namun pak Quraish menegaskan, asalkan pengelolaannya tidak melanggar syariat Islam. “Kamu bisa kelola dengan cara itu?” Tanya ayah. Menurut saya sulit, dan karena itu saya batalkan dan membangun sekolah sebagai gantinya. Berkat surat Pak Quraish," cerita JK

Testimoni para tokoh di atas rasanya kurang lengkap tanpa cerita keluarga. Dan ternyata, banyak cerita menarik yang didapat di dalamnya. Keluarga menyebut Quraish dengan nama Habib.

"Orang tanya apa Habib banyak aturannya? Tapi di rumah kami junjung tinggi demokrasi Habib bilang tak melulu harus melarang Habib bilang yang penting ada kesadaran," tulis testimoni keluarga.

Dalam perayaan ulang tahun ke-70, keluarga sempat membuatkan acara khusus. Para tokoh diundang dan ada persembahan penampilan dari cucu-cucu. Tak ada ceramah keagamaan. Yang ada hanya mengangkat sosok Quraish Shihab yang penuh canda dan jenaka.

"Malam itu ratusan hadirin, termasuk mantan Presiden B.J. Habibie, mantan Wakil Presiden Try Sutrisno dan Jusuf Kalla, disuguhi alunan musik gambus dan petikan gitar musisi idola Quraish, Ebiet G. Ade. Sajian hip hop para cucu, menambah ceria suasana," ceritanya.

Kesaksian para keluarga Shihab semakin menambah daya tarik acara. Kakak Quraish Shihab, Umar Shihab, mengatakan Quraish kecil sangat hobi nongkrong di warung kopi. Quraish juga memiliki jiwa seni, suka menyanyi dan nonton di bioskop. Demi menyaksikan bintang film pujaan, diam-diam Quraish mangkir dari tugas menjaga toko ayahnya.

Lain lagi cerita Alwi Shihab, adik Quraish. Waktu muda, kata Alwi, Quraish mirip Clark Gable, aktor ganteng tahun 1950-an yang berjuluk “The King of Hollywood”. Banyak yang kepincut, termasuk perempuan Mesir, tempat Quraish belasan tahun mendalami ilmu tafsir di Universitas al-Azhar. Tapi Quraish cuek, saking getolnya memburu gelar doktor. Quraish bahkan boleh dibilang telat nikah untuk ukuran pemuda di zamannya, sebelum akhirnya menyunting pujaan hati, Fatmawaty.

Tapi jangan tanya soal sepakbola. Quraish disebut sangat tergila- gila, lebih lagi pada Real Madrid, klub ternama Spanyol. Hingga kini ia rela begadang setiap Los Blancos berlaga. Saat kuliah di al-Azhar, sebagai Madridista, Quraish pernah berjalan kaki berkilo-kilo demi menyaksikan atraksi Alfredo di Stefano dan klub pujaannya yang melawat ke Mesir. Tapi jadi penonton saja belum cukup. Di tengah seabreg tugas kampus, ia pun bermain sebagai bek, dan kadang gelandang. Hingga kini Zamalek men- jadi klub yang bersaing ketat dengan al-Ahli di papan atas Liga Utama Mesir, seperti persaingan Real Madrid dan Barcelona di La Liga Spanyol.

Oleh adik-adiknya, Quraish dipanggil Bang Odes. Menurut Abdul Muthalib, Bang Odes kerap bertindak sebagai penengah jika ada anggota keluarga yang bertengkar. Sikap berada di tengah, bertahan hingga kini. Ketika kakak dan adik Quraish, termasuk Muthalib, aktif di partai politik yang berbeda-beda, Bang Odes tidak ke mana-mana. “Jadi bang
Odes selalu ada di mana-mana,” kata Muthalib.

Selain jadi penengah, Bang Odes seringnya malah jadi peng- hibur, karena joke-joke segarnya selalu mengalir, bagai mata air yang tak pernah kering. “Di setiap acara kumpul keluarga, Bang Odes jadi seksi hiburan, selalu menguasai mikrofon,” kata Nizar, adik Quraish.

Di mata anak-anaknya, Quraish yang dipanggil Abi, adalah sosok yang penuh canda, dan usil. Selalu ada cerita lucu, tapi kisah humor andalannya adalah Abu Nawas. “Abu Nawas selalu jadi tokoh utama, dari mulai muda sampai tua,” kata Najwa, putri kedua Quraish. Bagi Fatmawaty, Quraish adalah pria romantis. Dan jago merayu istri, meskipun gara-gara buku, Fatmawaty sering harus mengalah jadi istri kedua.

Quraish Shihab lahir 16 Februari 1944 di Lotassalo, kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan. Ayah- nya, ahli tafsir Profesor Abdurahman Shihab, menerapkan pendidikan dan disiplin yang keras.

Lagu-lagu artis kelahiran Malaysia ini digemari Quraish, dan jadi andalannya saat tampil dalam lomba nyanyi di tingkat SD. Lagu favorit Quraish adalah Timang-timang Anak, karya P. Ramlee. Lagu ini pula selalu jadi senandung Quraish saat meninabobokan putra-putrinya waktu masih kecil, sebelum tidur.

Tonggak kecintaan Quraish pada ilmu al-Qur’an tertancap berkat gemblengan Aba Abdurrahman Shihab. Dua tahun nyantri di Pesantren Dar al-Hadits al-Faqihiyah Malang, Jawa Timur, Quraish juga mengenyam bimbingan langsung dari ahli hadits sekaligus pimpinan pesantren, Habib Abdul Qadir Bilfaqih.

Setelah itu, dia menimba ilmu di Universitas al-Azhar hingga meraih gelar sempurna. Di Indonesia, Quraish sempat menjadi rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, lalu menteri Agama hingga duta besar.

Tapi semua itu tak bisa membendung hobinya menulis. Di usia 22 tahun, Quraish telah menulis buku berbahasa Arab, Al- Khawathir, setebal 60 halaman. Hingga usia 70 tahun, Quraish menghasilkan puluhan buku yang seluruhnya berjumlah 24.251 halaman. Jika sebelum masa akil baligh (usia 14 tahun) tidak dihitung, maka setiap harinya ia menulis rata-rata 1 1⁄4 halaman.

Sebagian besar bukunya berkali-kali cetak ulang dan men- jadi best seller. Karya Quraish yang monumental adalah Tafsir al-Mishbah setebal lebih dari 10.000 halaman, terbagi 15 volume. Sebanyak 14 volume dituntaskannya dalam waktu kurang 3 tahun, saat Quraish menjabat Duta Besar Republik Indonesia untuk Mesir, Somalia, dan Jibuti.

(mad/faj)