Dua Kru Metro TV Terhambat di Perbatasan Irak-Yordania
Selasa, 22 Feb 2005 11:02 WIB
Jakarta - Dua kru Metro TV yang baru dibebaskan oleh penculiknya di Irak, Meutya Hafid dan Budiyanto, hingga kini masih terhambat di perbatasan Irak dan Yordania. Diharapkan keduanya bisa meninggalkan Irak hari Selasa (22/2/2005) ini untuk menuju Yordania dan selanjutnya pulang ke Indonesia.Juru Bicara Deplu Marty Natalegawa, kepada detikcom dan Metro TV usai Foreign Policy Breakfast di Gedung Deplu, Jl. Pejambon, Jakarta Pusat, Selasa (22/2/2005), menjelaskan beberapa hari ini perbatasan antara Irak dan Yordania ditutup dikarenakan perayaan Asyura. Tim Deplu, menurut Marty, sebenarnya sudah membuat arrangement dengan penjaga perbataan untuk meminta pengecualian bagi keduanya. Tapi karena ada perkembangan teknis dan lain sebagainya sehingga membutuhkan izin dari Kementerian Dalam Negeri Irak untuk membiarkan mereka lewat. "Jadi hingga saat ini mereka masih berada di perbatasan Irak dengan Yordania di bagian Irak," kata Marty seraya menambahkan rencananya perbatasan akan secara resmi dibuka kembali pukul 08.00 waktu setempat atau 13.00 WIB setelah perayaan Asyuran selesai. Saat ini tim dari deplu sudah berada di perbatasan Irak-Yordania di bagian Yordania untuk menjemput kedua kru Metro TV. "Harapan kami dengan dibukanya perbatasan maka saudara-saudara kita itu sudah bisa meninggalkan Irak menuju Yordania," kata Marty.Dijelaskan Marty, sebelumnya pihaknya memang menduga evakuasi bisa tuntas kemarin. "Tapi karena beberapa masalah teknis maka kepulangan menjadi tertunda. Insya Allah begitu sampai di Yordania mereka akan langsung pulang ke Indonesia. Kami masih akan mengatur teknis kepulangannya."Lebih lanjut Marty mengatakan setibanya di Indonesia Meutya dan Budiyanto kemungkinan akan diterima oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ini seperti kasus Casingkem dan Istiqomah, dua tenaga kerja Indonesia (TKI) yang dibebaskan dari penyanderaan di Irak, yang begitu tiba di Indonesia menghadap Presiden Megawati. "Selanjutnya mereka menuju kantor deplu untuk selanjutnya dilakukan serah terima kepada pihak kelaurga. Saya kira skenarionya (untuk Meutya dan Budiyanto) tidak akan jauh dari itu," demikian Marty Natalegawa.
(gtp/)











































