Kepala Sekolah Islam Terpadu Indonesia Jeddah DR Elly Warti Maliki menuturkan sejak 18 bulan lalu, ia tengah memproses perizinan sekolah. Agar disetujui pemerintah Arab Saudi, salah satu syaratnya adalah bangunan sekolah yang representatif.
"Kami menyewa bangunan sekolah ini 300 ribu riyal per tahun. Untuk enam bulan pertama kami mendapat pinjaman dari seorang pengusaha Indonesia. Namun bangunan sekolah belum layak, harus direnovasi," ujarnya saat menerima kunjungan dari Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dan Dirut Bank BJB Ahmad Irfan, Senin malam (6/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Empat bulan terakhir kami sudah cemas, karena membayangkan sekolah ini akan bubar. Anak-anak diliburkan dulu, sekolah di rumah gurunya masing-masing. Alhamdulillah adanya bantuan dari BJB, kami tidak lagi sekarat," ujarnya.
Elly menerangkan anak yang belajar di sekolahnya merupakan anak-anak TKI. Orangtuanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga atau ayahnya sopir. Saat ini jumlah anak didiknya sekitar 200 orang lebih. Mayoritas mereka berasal dari Jawa Barat.
"Kasihan anak-anak TKI ini, masuk ke sekolah internasional tidak mampu. Masuk sekolah pemerintah di sini, kuotanya full. Bagaimana mereka sekolah," ujarnya.
Di tempat yang sama Dirut Bank BJB Ahmad Irfan menjelaskan perusahaan mempunyai dana CSR yang akan disalurkan ke kesehatan, lingkungan, dan pendidikan. "Kami siapkan dana CSR sekitar 5 persen," ujarnya.
Irfan menyatakan BJB ke depan fokus membidik TKI, sehingga CSR untuk sekolah ini pas.
"BJB bank nya TKI, ini pas dengan sekolah islam terpadu Indonesia Jeddah, sekolahnya TKI," ujarnya.
Sementara itu Gubernur Jabar Ahmad Heryawan menyatakan apabila memungkinkan secara aturan, Pemprov Jabar akan memberikan bantuan.
"Di sekolah ini kan kebanyakan warga Jabar, saya merasa bertanggung jawab karena mereka adalah warga Jawa Barat," tandasnya. (dra/dra)











































