Sekolah Tinggi Hukum Jentera Didirikan, Yunus Husein dkk Jadi Pengurus

Rachmadin Ismail - detikNews
Selasa, 07 Jul 2015 16:53 WIB
dokumentasi: YSHK
Jakarta - Para pakar yang malang melintang di dunia hukum Indonesia mendirikan sebuah sekolah yang diharapkan dapat membentuk para praktisi yang berintegritas tinggi. Sekolah tersebut bernama Jentera.

Program strata 1 Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera diresmikan siang tadi di Puri Imperium Office Plaza, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (7/7/2015). Turut hadir dalam acara itu sejumlah tokoh hukum terkenal seperti: Yunus Husein (Ketua Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera), Arief T Surowidjojo (Pendiri STH Indonesia Jentera / Partner di Lubis Ganie Surowidjojo), Ahmad Fikri Assegaf (Pendiri STH Indonesia Jentera/ Managing Partner di Assegaf Hamzah & Partner), Chandra M Hamzah  (Pendiri STH Indonesia Jentera/Partner di Assegaf Hamzah dan Partner), Erry Riyana Hardjapamekas (Dewan Penyantun STH Indonesia Jentera), Bivitri Susanti (Wakil Ketua  I STH Indonesia Jentera).

Sekolah ini dibentuk oleh Yayasan Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (YSHK), institusi dengan pengalaman di bidang penelitian, advokasi, pelatihan dan sistem informasi hukum.

“Setelah 17 tahun YSHK mencoba melakukan perubahan, saatnya kini melakukan perubahan dari hulu yaitu dari bidang pendidikan," ujar Arief T. Surowidjojo.

Ahmad Fikri Assegaf menambahkan, sejumlah penelitian yang sudah dilakukan oleh YSHK, dapat membantu sekolah tersebut.

"Di satu sisi, kami melihat pendidikan tinggi hukum di Indonesia belum ideal seperti yang dibayangkan. Dengan berbagai modal yang YSHK sudah miliki, kenapa tidak membuat Sekolah Tinggi Hukum seperti yang di cita-citakan?" kata Fikri.

Yunus Husein, Ketua Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera, menyatakan bahwa selama ini sekolah hukum yang ada hanya melakukan reproduksi ilmu dari pengajar kepada  mahasiswa. Sementara yang sifatnya mencipta sesuatu yang baru, belum terlihat.

“Sekolah ini akan menghasilkan lulusan yang akan berkontribusi pada masyarakat”, ujar mantan kepala PPATK ini.

“Yang akan dihasilkan oleh Jentera adalah pembaru hukum, bukan hanya sarjana hukum. Kami ingin menghasilkan lulusan yang dapat menjadi pendobrak dan melakukan perubahan. Reformasi butuh orang dengan semangat pendobrak”, tambah Bivitri Susanti, Wakil Ketua Sekolah Tinggi Hukum Jentera.

Menurut Bivitri, ada tiga hal yang membedakan Jentera dengan Sekolah Tinggi Hukum lainnya, yaitu adanya program magang di berbagai law firm terkenal di Indonesia dan berbagai lembaga lain, metode belajar yang beragam, dan mahasiswa berada di antara komunitas pembaru hukum, sehingga mereka mendapat inspirasi dari lingkungannya.

Khusus mengenai cara menciptakan lulusan yang berintregritas, Erry Riyana Hardjapamekas, menyatakan bahwa integritas hanya bisa muncul dari keteladanan. Karena itu, dosen-dosen Jentera akan terdiri dari sosok yang telah teruji integritasnya dan bisa memberikan inspirasi bagi mahasiswanya.

Ada 2 skema beasiswa yang disediakan oleh Jentera, yaitu beasiswa Jentera yang ditujukan untuk lulusan SMA dan Munir Said Thalib Scholarship, yang ditujukan bagi aktivis Organisasi Masyarakat Sipil.

(mad/ndr)