Begini Kondisi 'Ala Kadarnya' Perparkiran sebelum Pakai e-Parking

Revolusi Kota

Begini Kondisi 'Ala Kadarnya' Perparkiran sebelum Pakai e-Parking

Tya Eka Yulianti - detikNews
Selasa, 07 Jul 2015 16:25 WIB
Begini Kondisi Ala Kadarnya Perparkiran sebelum Pakai e-Parking
(Foto: Tya Eka Yulianti/detikcom)
Bandung - Di tengah kecanggihan program e-parkir yang digagas Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, ada sisi ironisme yang terlihat dari pengelolaan parkir di area Masjid Agung Alun-alun Kota Bandung. Lokasi parkir yang berada di basement ini tak pernah sepi apalagi di Bulan Ramadan seperti ini. Namun, pengelolaan parkir di area parkir ini masih dilakukan secara manual.

Saat turun memasuki area parkir, petugas akan sigap mencatat nopol kendaraan disertai jam masuk. Waktu yang dicantumkan tentu saja tidak tepat hingga menit dan detiknya seperti mesin parkir yang biasa ada di mal atau pusat perbelanjaan lainnya.

"Ya dikira-kira saja, misalnya jam 15.00, 15.10, 15.30," ujar Ade (46) salah seorang juru parkir.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seringkali saat antrean motor panjang, petugas tak mencatat sama sekali waktu masuknya. Akibatnya, retribusi parkir yang dikenakan terpaksa hanya Rp 2 ribu. Padahal seharusnya yang berlaku Rp 2 ribu per jam.

"Soalnya kan petugasnya sedikit, pas antre panjang, kalau satu-satu ditulisin bisa rame," katanya.

Karena pencatatannya manual, bagian di loket keluar juga tak bisa menagih lebih jika ada perbedaan waktu.

"Misalnya dia masuk jam 2, terus keluar jam setengah 3, harusnya kan jadi Rp 4 ribu. Tapi ya saya kadang ngasihnya tetap saja Rp 2 ribu atau Rp 3 ribu," tuturnya.

Akibat pengelolaan parkir yang masih manual, Ade mengakui ada potensi pendapatan yang akhirnya hilang.

"Ya kalau pakai mesin kan waktunya bisa kelihatan, sudah masuk 2 jam atau 3 jam. Kalau manual gini ya susah," tuturnya.

Apalagi di Bulan Ramadan seperti ini, parkiran di basemen alun-alun ini banyak digunakan. Meskipun kondisinya yang kurang memadai karena lokasinya yang pengap dan berdebu.

"Naiknya bisa sampai 100 persen. Biasanya cuma habis 10 buku (tiket parkir), kalo sekarang bisa sampai 20 buku," katanya.

Menurutnya, karena pengelola parkir basemen masih dalam taraf peralihan sehingga masih belum menggunakan mesin.

"Kan ini lagi ada pengalihan pengelola makanya masih manual," ungkapnya.

Salah seorang pengguna parkir, Atang (33) mengaku kurang nyaman dengan pengelolaan parkir di basement alun-alun. Selain karena lokasinya yang kurang nyaman, antrean masuk dan keluar pun kerap mengular.

"Kalau karena tidak ada tempat lagi sih malas ya parkir di sini. Tempatnya pengap, kebul. Petugasnya sedikit, jadi lama kalau mau masuk dan keluar," tuturnya.

Parkir model baru mulai diterapkan di Jl Braga. Namanya e-parking. Mesin akan mencatat secara akurat durasi parkir. Dalam waktu dekat, sistem serupa dibuat di 140 titik lainnya. Selain menambah PAD, kebijakan tersebut diambil untuk menata perparkiran di Ibu Kota Jawa Barat ini.
(Foto: Tya Eka Yulianti/detikcom)
(tya/try)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads